Recent Posts

    Sejarah Dan Penyebab Terjadinya Sumpah Pemuda Serta Peran Penting Kaum Muda

    Foto Kongres Pemuda 27-28 Oktober 1928

    Sejarah Terjadinya Sumpah Pemuda.

    Entah apa yang merasuki algoritma youtube bekerja, tiba-tiba video berjudul “Chinese Indonesia tak Pandai berbahasa Chinese” (kalau tidak salah judulnya seperti itu karena lupa judul videonya, saya cari lagi videonya tidak berhasil ditemukan lagi). Tentu kalau diunggah oleh orang Indonesia, kolom komentar akan dipenuhi hujatan “ini rasis”. Dari bahasanya, saya tahu kalau video tersebut di unggah oleh warga Malaysia. 

    Dalam video tersebut, merekam sekumpulan anak muda yang berwajah oriental sedang mengobrol di sebuah ruangan, mungkin di sebuah tempat makan di Malaysia. Namun ada orang yang memperhatikan mereka. Orang yang memperhatikan ini mungkin merasa heran ada orang tinghoa yang lancar bahasa melayu selain bahasa chinese. Awalnya orang malaysia ini merekam videonya diam-diam, namun mereka pun penasaran dan bertanya kalau orang tionghoa itu warga mana, dan apakah mereka bisa berbahasa chinese atau tidak. Dan jawaban dari mahasiswa yang kuliah di Malaysia dengan wajah oriental tersebut mengatakan tidak.


    Tentu menurut mereka, melihat orang Tionghoa tidak bisa berbahasa mandarin dan hanya bisa menggunakan Bahasa Indonesia sangatlah mengejutkan. Karena di Malaysia, orang-orang Tionghoa disana sudah pasti pandai berbahasa mandarin namun banyak dari mereka tidak bisa menggunakan Bahasa Melayu. Atau, ada yang bisa bahasa melayu, namun tidak begitu fasih. Padahal, Mayoritas penduduk disana merupakan suku melayu dan menggunakan Bahasa Melayu dalam komunikasi sehari-hari. Ini yang menjadi salah satu perhatian besar di Malaysia. Bagaimana tidak, negara yang sudah merdeka 60 tahun lebih itu, tidak memiliki Bahasa persatuan. Masing-masing suku memiliki atau sebagian besar menggunakan bahasa mereka sendiri. Seperti yang kita ketahui, di Malaysia terdapat tiga suku besar, Melayu, Chinese, dan India.


    Menurut pakar Malaysia, hal ini dikarenakan para pendiri bangsannya tidak memiliki konsep yang utuh mengenai jati diri bangsa. Ia pun membandingkan bagaimana negara tetangganya, Indonesia, meskipun terdiri dari beragam suku dan bahasa, tetapi semuanya memiliki rasa persatuan, salah satunya dari bahasa nasional yang dipakai. Meskipun mayoritas di Indonesia adalah suku Jawa, tetapi bahasa melayu dinobatkan sebagai bahasa nasional. Inilah salah satu kunci, bagaimana para pendiri bangsa ini sadar, bahwa, bahasa persatuan bukanlah bahasa yang dimonopoli oleh suku yang memiliki jumlah penduduk terbesar, karena dimasa depan ini bisa jadi menimbulkan “superioritas” dan disintegrasi nasional

    Lalu, bagaimana kita memiliki Bahasa Indionesia? Tentu kita harus menengok jauh ke belakang. Kita mungkin sudah tak asing lagi mendengar “Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia”. Itulah salah satu bunyi sumpah pemuda, yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928.

    Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. Ikrar sumpah pemuda 28 Oktober 1928, adalah tonggak penting sejarah bangsa kita. Peristiwa ini, jadi puncak pertama kebangkitan nasional, yang menyatukan beragam perbedaan. Mulai dari suku dan etnis, bahasa, seni, budaya, sampai agama. Semua bersatu dalam harmoni, untuk kebangkitan sebagai satu bangsa untuk memperjuangkan kemerdekaan. Sumpah pemuda menjadi pondasi yang kokoh dan kuat peran penting kaum muda. Yang kemudian berlanjut berturut peristiwa-peristiwa yang mengubah sejarah bangsa oleh generasi muda. Mereka yang mendobrak kemampatan, menggubah perubahan untuk kemajuan Indonesia.

    Kongres pemuda ke-2 yang menghasilkan seruan lantang ikrar sumpah pemuda bukanlah sebuah peristiwa seketika. Kebangkitan nasional yang berhasil memecah kebekuan primordial nusantara ini, memiliki runutan panjang perjuangan melawan penjajahan. Salah satunya dimulai berdirinya berbagai organisasi kebangsaan dan kepemudaan diawal abad ke-20. 19 Oktober 1905, Haji Samanhudi di solo mendirikan Sarekat Dagang Islam. Tahun 1910, Raden Mas Tirto Adi Suryo mendirikan Serikat Dagang Islam di Guiten Zorch, atau sekarang dikenal dengan Bogor. Sebelumnya pada tahun 1906, Tirto Adi Suryo mendirikan Serikat Priyayi. Tokoh ini juga menerbitkan surat kabar pertama di Indonesia berbahasa melayu, Medan Priyayi, pada tahun 1907. Di Surabaya pada tahun 1912, Haji Oemar Said Tjokro Aminoto mengikuti Gerakan Haji Saman Hudi. Dibawah kepemimpinan H.O.S Tjokro, pada tahun 1912, Sarekat Dagang Islam berganti nama menjadi Serikat Islam. Pada periode yang sama, perkumpulan Boedi Oetomo didirikan pada 20 Mei 1908 di Jakarta. Boedi Oetomo berdiri atas inisiatif Dokter Sutomo bersama beberapa dokter dan mahasiswa Stovia berdasarkan atas gagasan Dokter Wahidin Soediro Hoesodo. Anggota perkumpulan ini, diawal berdirinya dikhususkan untuk orang Jawa yang juga mahasiswa kedokteran Stovia. Perkumpulan Budi Utomo tercatat dalam sejarah sebagai organisasi pemuda pertama di Indonesia.

    Keberadaan Budi Utomo ini, menggerakan dan seiring sejalan dengan munculnya organisasi dan perkumpulan pemuda yang bersifat kedaeraahan diawal abad ke-20. Perubahan sosial di nusantara ini, tidak lain, adalah konsekuensi dari arus zaman yang digerakkan oleh putusan politik Belanda atas nestapa kaum pribumi di tanah jajahan mereka.

    Setelah ratusan tahun terus dihisap dan dibuat sengsara dengan rupa-rupa penindasan, kaum pribumi nusantara seakan berada dilembah paling dasar kehidupan yang tidak manusiawi. Situasi ini menggerakan para aktifis di Belanda menulis laporan dan kritik keras terhadap pemerintahannya sendiri. Akhirnya, Ratu Wilhelmina berpidato dalam pembukaan parlemen di Belanda. Secara garis besar, pidato itu mengingatkan bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral terhadap penduduk Hindia-Belanda. Pidato yang memunculkan kebijakan baru ini, terutama dipengaruhi oleh pemikiran Conrad Theodore Van de Venter yang dituliskan dalam beberapa artikel. Itulah sebabnya kebijakan politik ini kemudian dikenal dengan nama Trias Van de Venter. Disebut juga sebagai plitik etis, atau politik balas budi. Kebijakan ini meliputi irigasi, transmigrasi, dan edukasi.

    Meski demikian, pelaksanaan ketiga program ini ternyata diselewengkan oleh perselingkuhan para pejabat kolonial dan kelmpok kapitalis. Irigasi, yang seharusnya untuk pertanian rakyat Indonesia, dialihkan untuk perkebunan-perkebunan Belanda. Transmigrasi pun sama, perpindahan masyarakat Jawa ternyata malah dimanafaatkan untuk mencukupi kebutuhan buruh-buruh perkebunan di Sumatera dan Suriname. Sementara penyelenggaraan Pendidikan barat difungsikan untuk menyediakan tenaga administrasi perusahaan-perusahaan swasta dan pemerintahan Hindia-Belanda. Dalam situasi semacam ini kembali terbukti, bahwa ilmu pengetahuanlah yang jadi roda penggerak peradaban. Dibukanya akses pendidikan bagi kaum pribumi ternyata menjadi pelita yang kelak kemudian menyalakan kebangkitan nasional rakyat Indonesia.

    J.H Abendanon, waktu itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan, menjadi tokoh penting keberhasilan program Pendidikan bagi pribumi. Sekolah tersebar cukup merata di beberapa wilayah penting nusantara. Akses Pendidikan, tidak hanya dibuka untuk kaum priyayi yang ketika itu menjadi kpanjangan tangan pemerintah kolonial. Rakyat biasa pun diberi kesempatan bersekolah, walaupun dengan fasilitas dan kualitas berbeda. Bangku Pendidikan barat, yang membuka akses generasi baru Indonesia menguasai bahasa Eropa, yakni bahasa Belanda dan bahasa asing lainnya membuka mata kaum pribumi. Anak-anak muda itu kemudian bersentuhan dengan rupa-rupa ilmu pengetahuan dan peradaban baru, yang bertolak belakang dengan kejumudan dengan kolonialisme Hindia-Belanda. Kaum muda generasi baru itulah yang kemudian berperan penting dalam tumbuhnya kesadaran nasional dan mendirikan rupa-rupa organisasi dan perkumpulan pemuda. Yohanes Leimena 23 tahun, Jong Ambon. Amir Sjarifdun Harahap 21 tahun, jong batak. Muhammad Roem, 20 tahun, jong islmieten bond. Muhammad Yamin, 24 tahun, jong sumateraneun bond. Dan sorang pemusik, Wage Rudolf Supratman, 25 tahun.

    Tokoh—tokoh ini, Bersama tokoh-tokoh pemuda lain dari berbagai organisasi perkumpulan pemuda, baik di Indonesia maupun di Belanda, kemudian menginisiasi pelaksanaan kongres pemuda pertama dan kongres pemuda ke dua menorehkan tinta emas kebangkitan nasional: ikrar sumpah pemuda.

    Kongres sumpah pemuda dan ikrar sumpah pemuda tidak bisa dipisahkan dari situasi sosial dimasa pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda. Awal abad ke-19, perekonomian di Hindia-Belanda terutama perkebunan dan perdagangan, dikuasai bangsa eropa dan tionghoa. Politik ekonomi liberal ini sangat menyelengsarakan petani dan penduduk pribumi. Terlebih, ketika perekonomian Hindia-Belanda memburuk yang membuat, yang membuat para tuan tanah dan pemilik modal semakin menindas kehidupan masyarakat. Kerusuhan dan pemberontakan terjadi dimana-mana. Karena para petani dipaksa bekerja tanpa bayaran atau diusir karena tidak dapat membayar hutang dan pajak.

    Perkumpulan dan organisasi pribumi seperti Serikat Dagang Islam dan Budi Utomo, awalnnya dibentuk untuk memperjuangkan  kepentingan kelompok dan golongan. Sampai kemudian, kaum terdidik ini tergerak untuk memperjuangkan aspirasi politik bahkan bertambah radikal sejak awal 1920an. Pemerintah Hindia-Belanda tentu saja tidak tinggal diam. Kebebasan berserikat dan berkumpul yang awalnya dijamin dan legal, kemudian dikekang dengan peraturan-peraturan baru.

    Kepolisian dan pejabat khusus pemerintah Hindia-Belanda berwenang untuk menghadiri rapat-rapat organisasi. Pemerintah Hindia-Belanda juga menyusup dan memecah belah berbagai organisasi dan perkumpulan pergerakan nasional. Demikian juga dengan organisasi pelajar dan mahasiswa. Orang tua pelajar dan mahasiswa ditekan agar anak-anak mereka tidak terlibat dalam perkumpulan dan organisasi politik.

    Siasat licik pemerintahan ini, sedikit banyak memberi pengaruh besar karena para pelajar dan mahasiswa itu sebagian besar mendapat beasiswa atau orang tua mereka adalah pegawai dan aparatur pemerintah Hindia-Belanda. Represi dan politik pecah belah pemerintah itu memunculkan ketegangan diantara organisasi pergerakan. Antara kelompok yang memilih jalan panjang melalui kerjasama dan pendidikan, dengan kelompok yang semakin keras menyuarakan sikap politik pribumi.

    Ketegangan lebih gawat terjadi pada organisasi islam yang mendapat infiltrasi aliran kiri atau komunis. Puncak represi pemerintah terjadi pada tahun 1926. Hal ini terjadi seiring dengan pemberontakan bersenjata  PKI yang dimulai di Batavia pada 12 November 1926. Yang kemudia menyebar ke kota-kota lain di Jawa, dan Sumatera. Pemberontakan ini sejak semula telah menimbulkan perpecahan bahkan dikalangan internal PKI. Terlebih setelah pemerintah Hindia-Belanda menghabisi pemberontakan tersebut, yang mengorbankan ribuan jiwa dan dilanjutkan dengan penangkapan para aktivis politik nasional.

    Pemerintah kolonial Hindia-Belanda semakin ketat mengawasi perkumpulan dan organisasi pergerakan. Sementara para aktivis semakin menyadari, bahwa persatuan dan kerjasama diantara seluruh elemen bangsa harus didahulukan untuk memperjuangkan nasib kaum pribumi. Perkumpulan dan organisasi pemuda memulai upaya untuk menjalin persatuan itu melalui kongres pemuda pertama.
    Kongres pemuda pertama yang dilaksanakan di Batavia pada 30 April sampai 2 Mei 1926 itu, sesungguhnya telah mengerucut pada satu rumusan resolusi kongres. Resolusi itu gagal dimufakati karena belum adanya kebulatan pandangan bahasa melayu yang diusulkan Muhammad Yamin sebagai bahasa persatuan. Bahasa persatuan dan lagu kebangsaan adalah symbol penting nasionalisme bangsa yang sudah sejak lama jadi pemikiran para aktifis. Pemikirian ini tidak lain dipengaruhi oleh pendidikan barat yang mengajarkan bahwa kemerdekaan satu bangsa tidak akan bisa dicapai, selama bangsa Indoneisa masih terpecah karena perbedaan aliran, suku, maupun agama.

    Kongres pemuda kedua adalah hasil pemufakatan berbagai organisasi pemuda yang melaksanakan kongres pemuda pertama. Waktu dan tempat pelaksanaan kongres sumpah pemuda: Kongres Pemuda dilangsungkan di Batavia pada 27-28 Oktober 1928, di tiga lokasi berbeda. Hari pertama, tempat berlangsungnya kongres  pemuda di Gedung Katholikee Jongelingen Bond pada 27 Oktober. Hari kedua di Gedung Oost Java Bioscoop pada tanggal 28 Oktober ( sekarang berada di Medan Berdeka Utara No 14). Dan penutupannya dilangsungkan di Gedung Indonesische Clubgebow. Di gedung inilah keputusan kongres dibacakan, yang kemudian dikenal dengan nama sumpah pemuda. Gedung Indonesische Clubgebow adalah asrama mahasiswa yang diperuntukan bagi mahasiswa dari luar Jakarta. Di asrama ini pula, para pemuda yang semuanya fasih berbahasa Belanda berkumpul, berdiskusi, berdebat, dan akhirnya berkongres.

    Kongres ini tentu saja tidak terselenggara dengan mudah. Rupa-rupa represi dan tekanan terus dilakukan, bahkan sejak jauh-jauh hari. Para orang tua, priyai, dan pejabat pemerintahan telah melarang anak-anak mereka terlibat dalam kegiatan aktifitas politik. Pemerintah sendiri selalu melakukan pengawasan melekat dalam setiap kegiatan dan rapat. Aparat pemerintah ini berhak melarang dan bahkan menangkap aktifis yang dianggap merong-rong pemerintahan Hindia-Belanda. Beberapa kegiatan tambahan, seperti pawai dan arak-arakan pelajar termasuk yang dilarang dalam kongres yang kedua ini. Sementara penyebutan dan kalimat merdeka, tentu saja jadi subversive yang paling tidak bisa diampuni.

    Meski demikian, anak-anak muda itu hidup dalam lingkungan pergerakan nasional yang tidak bisa dibendung lagi. Semua mereka bersiasat dibawah hukum kolonial yang terus menjegal. Termasuk persoalan-persoal diantara anak bangsa sendiri yang belum lagi bertekad bulat dan bersatu sebagai bangsa Indonesia.

    Kongres pemuda Indonesia ke dua didasari hasil kongres pemuda pertama. Dalam kongres pemuda pertama, dimaklumatkan bahwa bahasa persatuan dalah bahasa melayu. Pada kongres kedua inilah terjadi perubahan besar, yaitu istilah bahasa melayu diubah menjadi bahasa Indonesia. Yamin yang semula bersikukuh menggunakan istilah bahasa Melayu menimbang ulang, bahwa kongres kedua inilah harus menghasilkan suatu resolusi yang penting. Maka dia kemudian merumuskan bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia.

    Kongres pemuda kedua pun ditutup dengan pembacaan hasil kongres. Seluruh peserta yang berasal dari berbagai macam suku dan golongan memulai awal baru bagi perjuangan bangsa. Mereka bertekad bulat dalam satu sumpah: “Bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia. Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia. Dan menjujung tinggi bahasa pertsatuan, Bahasa Indonesia.”
    Ikrar ini kemudian dikenal dengan sumpah pemuda. Selain itu, dalam penutupan kongres pemuda kedua ini pula, untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang secara instrumentalia.

    Peran Penting Kaum Muda


    Bangsa Indonesia dilahirkan oleh kaum muda. Sejak awal abad 20 yang ditandai dengan berdirinya Sarekat Islam dan berbarengan dengan munculnya kaum terpelajar. Kaum muda, betul-betul bergairah. Berjuang untuk bangsa, sudah tentu memiliki resiko yang besar. Terlebih dimasa penjajahan, dibawah pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Penangkapan, penjara, dan pengasingan menjadi ancaman nyata. Soekarno, 29 Desember hingga 31 Desember 1931 di penjara, di penjara Bancei dan Sukamiskin. Agustus 1933 diasingkan ke Ende, Flores. Tahun 1938 sampai 1942 diasingkan ke Bengkulu. Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir pada awal tahun 1935 dibuang ke Boven Digul, kemudian ke Banda Neira. Dan banyak aktifis kemerdekaan lain yang mengalami hal serupa.

    Demo mahasiswa tahun 1998

    Sejarah mencatat, kaum muda menjadi aktor utama dalam perjuangan bangsa melalui pertempuran bersenjata maupun diplomasi. Perjuangan di jalan raya maupun organisasi. Di masa penjajahan maupun kemerdekaan, peristiwa-peristiwa besar di negeri ini mengajarkan bahwa anak muda – anak muda itulah yang berjuang paling depan. Abai pada kepentingan pribadi, tidak peduli jabatan dan kursi. Pada mereka kita belajar: “pada kaum muda itu bergantung masa lalu dan masa depan Indonesia”.


    Demo mahasiswa tahun 2019

    0 Response to "Sejarah Dan Penyebab Terjadinya Sumpah Pemuda Serta Peran Penting Kaum Muda"

    Post a comment

    Harap meninggalkan komentar dengan bijak dan sesua topik pembahasan ;)

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel