Recent Posts

    Cerita Rakyat Daerah Banten Populer- Legenda Batu Kuwung


    Legenda Batu Kuwung meneritakan asal usul Batu Kuwung
    Cerita Rakyat Banten Legenda Batu Kuwung

    Cerita Rakyat Daerah Banten - Legenda Batu Kuwung. Sebelum kita membahas ke inti cerita, kita Bahas sedikit mengenai pengertian cerita rakyat atau ada juga yang menyebutnya legenda rakyat.

    Jadi, Apa itu Cerita Rakyat?


    Cerita rakyat merupakan cerita yang berasal dan berkembang dalam masyarakat suatu daerah pada masa lampau. Cerita ini menjadi ciri khas pada setiap bangsa atau suku yang mempunyai kultur budaya beraneka ragam. Cerita rakyat erat kaitannya dengan kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki masing-masing bangsa atau suku tersebut. Pada umumnya, cerita rakyat ini mengisahkan mengenai suatu kejadian di suatu tempat atau bisa juga asal usul dari suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk  berupa manusia, hewan, dan bahkan dewa.

    Ada juga yang menyebut cerita legenda rakyat. Menurut Buku Sari Kata Bahasa Indonesia, Legenda adalah cerita rakyat zaman dahulu yang berkaitan dengan peristiwa dan asal usul terjadinya suatu tempat. Salah satunya legenda batu kawung ini. Bantak juga cerita legenda lain seperti cereita legenda sangkuriang yang berhubungan dengan gunung tangkuban perahu, cerrita tentang danau toba, daln lain-lain. Jadi, Cerita rakyat atau cerita legenda daari banten erat kaitannya dengan kultur budaya dan sejarah dari banten itu sendiri. Selain mengetahui kultur budaya dan sejarah suatu masyarakat, dengan membaca cerita rakyat kita juga akan mendapatkan nilai-nilai atau pesan moral yang terkandung didalamnya.

    Lantas, Bagaimana sejarah Banten itu sendiri?

    Peta Wilayah Kekuasaan Kesultanan Banten
    Peta Wilayah Kekuasaan Kesultanan Banten

    Baiklah, secara singkat, sebelum Banten menjadi sebuah provinsi di tahun 2001, Banten merupakan sebuah kesultanan, yang mencapai puncak kemakmuran pada masa kesultanan yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Jika mundur lebih jauh lagi, Banten merupakan bagian dari kerajaan pasundan Padjajaran yang berpusat di Bogor pada awal abad ke 16.

    Namun, Kerajaan Pajajaran melakukan kesepakatan dagang dengan Portugis. Dimana, Protugis bisa melakukan kegiatan dagang dan bahkan mendirikan wilayah dagang dan benteng di Sunda Kelapa. Di lain tempat, pada tahun 1526, Sultan Trenggono dari Kesultanan demak mennugaskan anaknya yang bernama Fattahilah untuk menaklukan wilayah Padjajaran dan menghancurkan benteng Protugis tersebut. Mulai dari sanalah Banten menjadi sbuah Kerajaan atau lebih tepatnya Kesultanan. Islam pun menyebar, dan sisa-sisa pasukan Padjajaran konon melarikan ke daerah yang kini menjadi kabupaten lebak, tepatnya di sekitar daerah Ciboleger dan Leuwidamar. disanalah Suku Baduy berada. Banyak yang menyebut, nenek moyang Suku Baduy merupakan sisa-sisa kerajaan Padjadaran yang melarikan diri dari penaklukan Pangeran Fattahilah. Jika mayoritas masyarakat Banten beragama Islam, Suku Baduy masih memegang teguh kepercayaan karuhun.


    (Lebih Lengkapnya mengenai sejarah dan awal mula berdirinya Provinsi Banten bisa anda baca disini). Maka dari sejarah tersebut, berkembang pula cerita-cerita rakyat di Banten. Misalnya Cerita legenda Gunung Sari, Cerita Rakyat Pandeglang, Cerita Rakyat banten Karang Bolong, Cerita rakyat banten gunung pinang, Cerita Rakyat Gunung Santri, Cerita Rakyat Guung Karang, Cerita Rakyat Banten Sumur Tujuh, cerita rakyat banten batu quran, daln lain-lain.

     Cerita Rakyat Asal Banten : Legenda Batu Kuwung.

    Batu Kuwung Banten
    Batu Kuwung Banten

    Cerita ini adalah cerita yang menceritakan asal mula Batu Kuwung. Batu Kuwung sendiri adalah merupakan sebuah tempat obyek wisata pemandian air panas berlokasi sekitar 32 km arah selatan Serang,lebih tepatnya di Batukuwung, Padarincang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. 
    Wisata Pemandian Air Panas Batu Kuwung
    Wisata Pemandian Air Panas Batu Kuwung


    Batu kuwung memiliki pengertian batu cekung, yakni sebuah batu yang berbentuk cekung, yang dapat mengeluarkan air panas. Masyarakat setempat percaya bahwa keberadaan sumber mata air panas tersebut disebabkan oleh sebuah peristiwa ajaib pada masa lalu yang pernah terjadi di daerah itu. Lalu, bagaimana cerita nya? Silahkan dibaca dibawah ini 😊


    Wisata Batu Kuwung Banten
    Wisata Batu Kuwung Banten

    Pada suatu masa di zaman dahulu, hiduplah seorang saudagar yang sangat kaya raya.
    Saudagar tersebut hidup pada masa Sultan Haji (sekitar tahun 1683-1687 M). Ia tinggal di sebuah desa di daerah Banten. Saudagar ini sangat dekat sangat dekat dengan lingkaran kekuasaan kesultanan, bahkan dengan sang Sultan itu sendiri. Karena hubungan kedekatan itulah ia mendapat hak untuk memonopoli perdagangan beras serta lada di wilayah kekuasaan Sultan, di daerah Lampung. Maka dari itu, tak heran bila ia memiliki uasaha yang maju pesat. Bahkan, dalam waktu singkat saja ia kini menjadi seorang saudagar yang kaya nan disegani di wilayah tersebut. Tanah pertanian yang ada di desa-desa sekitar tempat tinggalnya, hamper semuanya menjadi miliknya. 


    Namun, tanah-tanah tersebut ia miliki dengan cara licik. Warga dieras dengan diberi hutang  yang bunganya amat tinggi. Sehingga, para warga tersebut kesulitan dalam memayarnya. Para petani yang memiliki hutang pun terpaksa untuk menyerahkan tanah miliknya kepada sang saudagar sebagai penebus hutang.


    Dan penderitaan yang dialami warga pun semakin menjadi-jadi saat sang saudagar kaya tersebut diangkat menjadi kepala desa. Ia semakin berkuasa. Kekuasaan yang harusnya digunakan untuk membuat warga sejahtera, justru malah disalahgunakan dengan memungut pajak yang mencekik perekonomian warga, pajak tersebut lebih tinggi dari yang seharusnya warga bayar. Dengan kekuasaan dan uang, ia malah semakin sombng dan angkuh. Saudagar yang kini menjadi kepala desa tersebut sering bertindak sewenang-wenang terhadap para warga.


    Selain itu juga, saudagar ini semakin sangat kikir dan pelit. Ia bahkan tidak mau menolong jika ada warganya yang meminta pertolongan. Saking kikirnya, bahkan ia tidak mau menikah dan berkeluarga seumur hidupnya. Menurutnya, menikah dan memiliki keturunan hanyalah suatu pemborosan dan buang-buang waktu. Ia malah lebih senang hidup bermewah-mewahan dan berfoya-foya penuh glamour diatas penderitaan warganya. Tak pelak, kelakuan kepala desa yang kaya raya ini semakin dibenci warganya.


    Menyadari hal itu, ia menjadi khawatir akan kekayaan dan nyawanya. Sang saudagar pun kini menyewa beberapa orang untuk menjadi pengawal pribadinya guna menjaga harta kekayaan dan keselamatan dirinya. Sehingga, tak seorangpun warga yang berani mengusiknya.


    Nah, pada suatu hari, kabar tentang keangkuhan dan kesewenang-wenangan saudagar kaya itu sampai ke telingan seseorang yang sangat sakti mandra guna. Orang sakti itu pun berniat untuk menyadarkan si Saudagar sombong dan kikir.

    Di suatu pagi, ia menghampiri rumah si saudagar dengan menyamar sebagar seorang pengemis dan berkaki pincang. Si pengemis dengan iba dan sambal menunduk di depan sang Saudagar berkata:

    “Aampun Tuan ku!, Sudilah sekiranya Tuan memberikan hamba ini makanan dan minum. Sudah dua hari Tuan, hamba belum makan”.

    Bukannya mendapat makanan dan minum, Si pengemis malah mendapat caci maki dan perlakuan kasar dari Si Saudagar

    “Hai Kau!!! Dasar pemalas!! Enak saja kau ini meminta-minta kepada aku” bentak sang saudagar yang sombong itu. “Pengawal” teriak Sang Saudagar, “Usir si pengemis hina ini dari hadapanku!” pinta SI Saudagar sembari mendorong pengemis itu.


    Tak pelak, Si pengemis itu pun tersungkur jatuh ke tanah. Bahkan, belum sempat berdiri pun dua orang pengawal segera menyeret dan mengusirnya. Si pengemis yang malang itu kini murka setelah mendapat perlakuan kasar tersebut. Sebelum melangkah meninggalkan halaman rumah yang megah nan mewah itu ia berpesan kepada Sang Saudagar:

    “Hai Saudagar kaya raya yang sombong dan kikir! Bersiaplah untuk menerima balasan yang setimpal dariku!. Kau akan merasakan betapa pedih dan perihnya menjadi orang yang miskin”.

    Setelah selesai berpesan, Si Pengemis itu tiba-bisa saja menghilang. Sang Saudagar serta kedua pengawalnya terkejut menyaksikan peristiwa ajaib tersebut. Di dalam hati Sang Saudagar, meskipun ada rasa takut setelah mengalami pertistiwa aneh tersebut, namun ia berusaha untuk menepisnya.

    “Ah, mana mungkin aku jatuh miskin. Hartaku sudah banyak dan melimpah. Ada-ada saja Si Pengemis itu” tepis sang Saudagar dengan sifat angkuhnya.

    Esok hari pun tiba. Rutinitas di desa itupun berjalan seperti biasanya. Namun betapa terkejutnya Sang Saudagar itu. Ketika bangun tidur, kedua kakinya tak bisa ia gerakkan. Ia berkali-kali berusaha menggerakannya namun tetap tidak bisa. Ia pun panik bukan kepalang dn berteriak histeris memanggil para pengawal pribadinya.

    “Pengawal! Cepat kesini, tolong aku! Cepat!” teriaknya dengan suara keras dan panik memegangi kedua kakinya.

    Mendengar Tuannya berteriak memanggil, para pengawalnya pun dengan segera dating menghampiri.

    “Ada apa Tuan? Apa yang terjadi dengan kaki Tuan?” Tanya seorang pengawal sembari melihat kaki Tuannya.

    “Aku tidak tahu, tiba-bisa saja kaki ku ini tidak bisa bergerak” Jawab Sang Saudagar sembari masih memegangi kedua kakinya.

    Kedua pengawal tersebut berusaha membantu menggerakan kaki Tuannya. Namun usaha tersebut tetap tidak berhasil. Rupanya, Sang Saudagar kaya nan sombing itu mengalami kelumpuhan dikakinya. Dengan perasaan pannik, ia segera memerintahkan semua pengawalnya untuk mencari tabib yang paling sakti.

    “Cepat kau cari Tabib yang bisa mengobati kedua kaki ku ini, Cari sampai dapat, bila perlu cari sampai ke ujung bumi” perintah Sang Saudagar.

    Tak lama hari itu juga, seluruh tabib sakti dari berbagai penjuru negeri pun berdatangan untuk mengobati kedua kaki Sang Saudagar. Namun, tetap saja tidak satu pun Tabib yang berhasil mengobati kedua kakinya.

    Dengan kondisi kejiwaan yang semakin panik itu sang Saudagar berpesan kepada para pengawalnya agar mengadakan sayembara.

    “Wahai para pengawalku, dengar ucapan ku baik-baik, segera umumkan kepada seluruh warga, bahwa barang siapa yang mampu menyembuhan kakiku dari kelumpuhan ini, dia akan kuberikan setengah dari harta kekayaan milikku” pesan Sang Saudagar

    Para pengawal yang setia itu pun dengan sigap segera berpencar memasang pengumuman di tempat-tempat dimana orang berkumpul dan tempat-tempat keramaian lain seperti di pasar, waung kopi, maupun di pinggir-pinggir jalan.

    Tak membutuhkan waktu lama, seluruh warga desa setempat dan desa-desa yang berada di sekitarnya tahu perihal pengumuman itu. Tak terkecuali orang sakti yang menyamar menjadi SI Pengemis itu. Mendengar pengumuman tersebut, Si Pengemispun segera mendaftar untuk menjadi peserta sayembara.

    Dan hari yang telah ditentukan pun tiba. Para peserta  sayembara yang datang dari berbagai penjuru dan kalangan berkumpul di halaman rumah Sang Saudagar.Termasuk Si Pengemis. Satu per satu para peserta sayembara dipanggil masuk untuk mengobati kaki Sang Sauadgar. Akan tetapi, meskipun mereka telah mengeluarkan segala kemampuan dan seluruh kesaktian yang mereka miliki, tak seorangpun mampu menyembuhkan penyakit kelumpuhan yang dialami sang Saudagar. Justru penyakitnya malah berambah semakin parah. Ia makin bertambah panik. Dan kini tinggal tersisa satu perserta terakhir, Si Pengemis. Ia menjadi satu-satunya harapan untuk Sang Saudagar

    “Wahai Pengemis, tolonglah aku! Hanya kamulah kini satu-satunya harapanku untuk menyembuhkan penyakit yang aku derita ini”. Ucap Sang Saudagar sembari memoohon.
    Lalu, pengemis itu pun tersenyum sembari mengamati kedua kaki Sang Saudagar. Ia berkata:

     “Begini Tuan ku! Aku tahu penyebab kelumpuhanmu ini. Apa yang kau alami ini disebabkan karena sifatmu yang kikir dan sombong,”

    Sang Saudagar mendengar jawaban si Pengemis itu terkejut. Ia seakan-akan tidak percaya dengan hal itu.

    “Jika benar yang kamu katakan itu, lalu, bagaimana cara menyembuhkan pemyakitku ini?” tanya saudagar kaya itu penasaran.

    “Jika Tuan ingin sembuh dari kelumpuhan ini,  maka Tuan harus memenuhi tiga syarat,” jawab si Pengemis.

    “Baiklah, apapun syaratnya, aku berjanji akan memenuhinya. Asalkan penyakitku dapat dsembuhkan,” ujar sang Saudagar menyanggupi.

    Mendengar jawaban itu, si Pengemis pun menjelaskan ketiga persyaratan yang harus dipenuhi oleh sang Saudagar, yaitu;

    “Pertama, Tuan  harus merubah sifat sombong dan kikir yang dimiliki Tuan, Kedua, Tuan harus pergi ke kaki Gunung Karang untuk bertapa di atas sebuah Batu Cekung selama tujuh hari tujuh malam, tanpa makan dan minum, Ketiga, Tuan juga harus berjanji untuk memberikan setengah harta kekakayaan yang dimiliki Tuan  kepada warga miskin setelah Tuan sembuh dari kelumpuhan yang Tuan alami” Ucap Si Pengemis mejelaskan.

    Sang Saudagar pun bersedia untuk menyanggupi ketiga syarat tersebut.


    Sebelum Sang Saudagar itu berangkat ke Kunung Karang, si Pengemis pun berpesan, agar Sang Saudagar tetap teguh dan tidak terpengaruh terhadap segala rintangan dan godaan yang menghampiri, yang dapat membatalkan pertapaannya. Setelah berpesan demikian, Si Pengemis itu dengan tiba-tiba hilang dari pandangan mata. Saudagar itu pun menyadari bahwa pengemis itu bukanlah sembarang orang.

    Kemudian setelah itu, berangkatlah Sang Saudagar ke Gunung Karang dengan ditandu oleh empat orang pengawal pribadinya. Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan setapak yang dikelilingi oleh semak belukar dan pepohonan rindang. Setelah dua hari dua malam berjalan, akhirnya mereka pun sampai di kaki Gunung Karang. Di tempat itulah terlihat sebuah batu yang cukup besar berbentuk cekung.

    “Pengawal! Bawa aku naik ke atas batu itu!” seru sang Saudagar.

    Tanpa disadari olehnya, ternyata keempat pengawalnya itu telah jatuh pingsan karena kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Akhirnya, saudagar itu mengesot di tanah dengan susah payah, berusaha untuk mencapai batu cekung itu dan naik duduk di atasnya.
    Ketika hari sudah mulai gelap, sang Saudagar yang sedang mengalami kelumpuhan kaki itupun segera memulai pertapaannya. Setelah tujuh hari tujuh malam ia bertapa dengan melalui berbagai rintangan dan godaan, seperti menahan lapar dan haus, serta gangguan dari binatang-binatang buas dan makhluk-makhluk halus, kejaiban pun terjadi. 

    Secara tiiba-tiba, ia melihat ada air panas menyembur keluar dari sela-sela sebuah Batu Cekung tempat dia dimana ia duduk. Dalam waktu singkat, tempat itu tergenang air, sehingga membentuk sebuah kolam kecil. Melihat peristiwa ajaib itu, sang Saudagar pun mengakhiri pertapaannya dan segera mandi di kalom itu. Betapa terkejutnya ia ketika mencebur ke dalam kolam yang berisi air panas itu. Secara tiba-tiba, ia merasakan darahnya mengalir di kedua kakinya, dan beberapa saat kemudian kedua kakinya dapat digerakkan kembali.

    “Oh, Tuhan! Terima kasih Engkau telah menyembuhkan kedua kaki Hamba ini,” Sang saudagar itu mengucap syukur.

    Setelah itu, dengan perasaan senang dan gembira, sang Saudagar bersama para pengawalnya segera kembali ke desa. Setibanya di desa, ia pun segera menunaikan janji-janjinya. Ia menyerahkan sebagian harta kekayaannya kepada warga miskin di sekitarnya. Ia membagi-bagikan tanah pertaniannya kepada petani miskin untuk mereka garap.


    Ia pun akhirnya menikahi seorang gadis cantik dari keluarga miskin dan kembali menjalankan tugas-tugasnya sebagai Kepala Desa dengan penuh tanggung jawab. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai orang kaya yang dermawan dan kepala desa yang arif dan bijaksana, sehingga semua warganya menjadi senang kepadanya dan berbalik mencintainya.

    Sang Saudagar pun menceritakan perihal keajaiban sumber air panas Batu Cekung di kaki Gunung Karang yang telah menyembuhkan penyakit lumpuhnya kepada setiap orang yang bertamu ke rumahnya. Lambat laun, akhirnya cerita itu pun dari mulut ke mulut tersebar hingga ke seluruh penjuru desa, sehingga para warga pun berbondong-bondong mendatangi tempat itu guna meraih kemujaraban air panas itu. Terbukti, banyak warga yang telah sembuh dari penyakitnya setelah mandi di tempat itu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, air panas Batu Cekung tidak hanya menyembuhkan penyakit lumpuh, tetapi juga berbagai macam penyakit seperti reumatik, polio, dan pegal-pegal, karena air panas tersebut mengandung kadar yodium dan kalsium.


    Air Batu Kuwung Dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit
    Air Batu Kuwung Dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit

    Nah, begitula cerita tentang asal usul Batu Kuwung ini. Menarik bukan? Pesan-pesan moral yang terkandul didalam cerita ini bisa anda baca DISINI

    Jika berkenan, mohon bagikan cerita ini keteman-teman anda melalui sosial media ini dengan cara klik ikon sosoal media dibawah ini, dan klik bagikan.

    Sekian dan terimakasih

    Tags:
    cerita rakyat dari banten singkat
    cerita rakyat asal banten
    cerita rakyat banten pendek
    cerita rakyat banten tanjung lesung
    cerita rakyat banten batu quran
    kumpulan cerita rakyat banten
    cerita rakyat banten bahasa inggris
    asal mula batu kuwung

    0 Response to "Cerita Rakyat Daerah Banten Populer- Legenda Batu Kuwung"

    Post a comment

    Harap meninggalkan komentar dengan bijak dan sesua topik pembahasan ;)

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel