Recent Posts

    KEK Tanjung Lesung: Potensi dan Tantangan

    KEK Tanjung Lesung: Potensi dan Tantangan
    Wisata Tanjung Lesung

    KEK Tanjung Lesung: Potensi dan Tantangan. Zona Ekonomi Khusus Tanjung Lesung, yang terletak di ujung barat Jawa, di Banten, adalah zona ekonomi khusus pariwisata. Secara resmi dibuka pada Februari 2015. KEK Tanjung Lesung menikmati lokasi yang strategis dan hanya berjarak 170 km dari ibukota. dari Jakarta dan dapat menempuh perjalanan darat selama 2,5 hingga 3 jam.

    KEK Tanjung Lesung meliputi 1.500 hektar dan memiliki potensi wisata yang beragam, termasuk keindahan alam pantai, keanekaragaman flora dan fauna dan kekayaan budaya yang eksotis. KEK Tanjung Lesung juga dekat dengan tempat wisata Banten lainnya, termasuk Kota Tua Banten, Badui dan Budaya Debus, Taman Nasional Ujung Kulon, Gunung Krakatau dan menara-menara pulau itu.

    Berasal dari kata "mortar", semprotan beras tradisional, Tanjung Lesung memiliki bentuk dataran pantai yang menjorok ke laut dan terlihat seperti lesung. Dengan pantai berpasir putih dan laut yang jernih, KEK Tanjung Lesung telah menarik wisatawan nasional dan internasional. Pada 2016, 570.000 wisatawan dikunjungi dan 6,1 juta wisatawan diperkirakan siap pada 2020.

    8 Bulan Pasca Tsunami, KEK Tanjung Lesung Berjuang Bangkit


    Zona Ekonomi Khusus Tanjung Lesung (KEK) terus membaik setelah tsunami 22 Desember 2018. Delapan bulan setelah bencana, kawasan wisata Cikadu, Pandeglang, Banten sudah mulai bangkit kembali.

    Kunto Wijoyo, Manajer Operasional di PT Banten Jawa Barat (BWJ), mengatakan kawasan pariwisata yang ia kelola tumbuh. Saat ini, proses pemulihan telah sekitar 60%.

    "Setelah tsunami 22 Desember 2018, kami dapat pulih dari hampir 50% hingga 60%, menurut data," kata Suunto Kunto Wijoyo di kawasan ekonomi khusus Tanjung Reading (KEK), Jumat / 8 ). 2019).

    "Jadi itu cukup penting, sebuah tanda bahwa kepercayaan masyarakat mulai pulih dan kami berharap untuk kembali ke situasi sebelumnya," katanya.

    Menurut Kunto, yang paling sulit bagi timnya adalah mengembalikan kepercayaan wisatawan dalam membaca KEK Tanjung Lesung.

    Seperti kita ketahui, tsunami di Selat Sunda secara signifikan mengurangi intensitas wisatawan yang pergi ke Tanjung Lesung.

    "Infrastruktur kami tidak ada masalah, hanya ada satu cara untuk mengembalikan kepercayaan, bahwa pariwisata aman di pantai Tanjung Lesung dan Selat Sunda," kata Kunto.

    Volume kedatangan wisatawan secara bertahap meningkat


    Meskipun kesulitan membawa wisatawan kembali ke Zona Ekonomi Tanjung Lesung, Kunto perlahan-lahan menyebutkan bahwa turis asing dan lokal sudah mulai pergi ke Bali Baru yang ditunjuk.

    Dikatakan bahwa Kunto tidak dapat dipisahkan dari peran pemerintah dan pemangku kepentingan pariwisata, yang berulang kali berkontribusi untuk memulihkan situasi Tanjung Reading.

    "Dua hingga tiga bulan setelah tsunami, jumlah pengunjung telah turun hampir 95 persen," kata Kunto.

    "Tapi setelah itu, jumlah pengunjung meningkat sebelum tsunami mencapai 50.000 pengunjung sebulan, sementara masih ada 35.000," tambahnya.

    Menurut Kunto, BWJ juga telah berusaha mengubah nama atau merekonstruksi citra Tanjung Reading sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk dikunjungi.

    "Salah satu hal yang kami lakukan adalah mengubah nama kami, kami mengubah nama Beach Club Beach menjadi Lalassa Tanjung Reading New Beach Club," kata Kunto.

    "Lalassa" berarti cinta dalam bahasa Sansekerta.

    "Kita tidak bisa hidup di masa lalu dan harus melihat ke masa depan agar stigmatisasi tidak berlanjut, kita ganti namanya," pungkasnya.

    0 Response to "KEK Tanjung Lesung: Potensi dan Tantangan"

    Post a comment

    Harap meninggalkan komentar dengan bijak dan sesua topik pembahasan ;)

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel