Recent Posts

    Sejarah Meriam Ki Amuk, Meriam Gahar Peninggalan Kesultanan Dan Cerita Rakyat Banten

    Meriam Ki Amuk di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

    Sejarah Meriam Ki Amuk, Meriam Gahar Peninggalan Kesultanan Dan Cerita Legenda Rakyat Banten.

    Mungkin anda masih belum familiar dengan Meriam Ki Amuk. Apalagi jika anda bukan warga asli Banten. Ya, memang akhir-akhir ini orang sudah tidak peduli dengan sejarah warisan nenek moyangnya. Maka pada kesempatan ini, penulis ingin membahas mengenai sejarah dan cerita legenda rakyat mengenai Meriam Ki Amuk.

    Namun, sebelum kita melangkah lebih jauh, sebenarnya apa itu Meriam Ki Amuk? Dan apa kaitannya Meriam Ki Amuk dan Banten? Baik, Meriam Ki Amuk sangat erat kaitannya dengan sejarah Banten dimasa lalu.  Seperti apa kaitan antara Banten dan Meriam Ki Amuk?

    Jauh sebelum menjadi sebuah provinsi, Banten merupakan sebuah kesultanan. Kesultanan Banten adalah merupakan salah satu Kerajaan Islam terkuat wilayah Nusantara, selama hampir 3 abad mulai abad ke-15 hingga ke-18.  Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan mencapai kejayaan yang luar biasa, padahal diwaktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya. Begitu kuatnya, sehingga sejarawan Belanda kenamaan HJ De Graff menyatakan pada abad 17, ada dua adidaya yang sangat disegani Belanda di kawasan Jawa waktu itu yakni Mataram dan Banten.

    Penilaian De Graff merujuk pada kualitas dan kuantitas pertahanan militer Kesultanan Banten.
    Selain dikenal memiliki pasukan infanteri yang terlatih, benteng pertahanan kokoh dan angkatan laut yang kuat, pertahanan militer Banten juga dilengkapi perangkat artileri yang mumpuni pada zamannya. Salah satunya yang legendaris adalah Meriam Ki Amuk. Selain Ki Amuk terdapat juga Meriam Si Jagur.

    Sejarah Awal Mula Keberadaan Meriam Ki Amuk

    Sejarah Meriam Ki Amuk

    Meriam Ki Amuk adalah peninggalan kerajaan atau lebih tepatnya Kesultanan Banten. Meriam ini sebenarnya sama saja bentuknya dengan Meriam pada umumnya, namun ukurannya terbilang cukup besar. Meriam Ki Amuk  memiliki ukuran panjangnya 341 cm, diameter bagian belakang 66 cm, diameter mulut atau moncong bagian luar 60 cm dan bagian dalam 32 cm. Adapun lebar bagian yang menonjol 1,15 m. Sedikit berbeda dengan K.C. Crucg, yang menyebutkan meriam Ki Amuk memiliki panjang 3,45 m, kalibernya 31 cm dan beratnya kira-kira 6 ton. Meriam Ki Amuk juga memiliki hiasan motif Mentari Majapahit pada bagian mulutnya. Selain itu, juga didapati prasasti berhuruf Arab. Prasasti pertama, medalion pertama, terbaca, Aqibah al-Khairi Salamah al-Imani yang artinya buah dari segala kebaikan adalah kesempurnaan iman.

    Sedangkan Prasasti kedua, berbunyi La fata illa Ali la saifa illa Zu al-faqar, isbir ala ahwaliha la mauta yang berarti tiada pemuda kecuali Ali, tiada pedang selain Zulfiqar, hendaklah engkau bertakwa sepanjang masa kecuali mati.

    Terkait sejarah asal mula Meriam Ki Amuk, banyak kita temukan beragam versi.
    Menurut pendapat dari ahli sejarah, Valentijn, yang mengatakan Meriam Ki Amuk merupakan hadiah dari Sultan Trenggono dari Demak kepada Sunan Gunung Jati. Menurut Valentijn, Sultan Demak menghadiahkan satu meriam bernama Ki Jimat kepada Hasanuddin sewaktu menikah dengan putrinya. Tradisi lain menyebutkan pada tahun 1528-1529 (1450 Jawa) Sultan Trenggana menghadiahkan sepucuk meriam besar buatan Demak kepada penguasa baru di Banten sebagai tanda penghargaan atas hasil yang telah dicapai. Disebutkan pula meriam ini awalnya bernama Rara Banya, kemudian selalu disebut Ki Jimat.

    Sedangkan menurut K.C. Crucq, menyatakan bahwa jejak awal dari nama meriam Ki Amuk terdapat di satu peta kota Banten yang dibuat sebelum pertengahan abad ke-17. Pada peta tersebut tercatat meriam besar ‘t Desperant’,  yang oleh Curcq dianggap sebagai terjemahan dari Ki Amuk. Crucq menyimpulkan, Ki Amuk memang dibuat di Jawa Tengah pada pertengahan abad ke-16 sekitar 1529 Masehi atau tahun 1450 Saka. Angka tahun itu sama dengan pernikahan Sultan Hasanuddin Banten dengan putri Sultan Trenggana Demak. Saat itu Sultan Trenggana menghadiahi Sultan Hasanuddin sebuah meriam bernama Ki Jimat lalu berubah nama menjadi Ki Amuk.

    Namun, ada sebuah catatan lain yang disampaikan oleh Mendes Pinto, yang  mengatakan bahwa ketika terjadi perang antara Demak melawan Panarukan (Pasuruan), terdapat sejumlah meriam yang dibuat dengan dicor, termasuk salah satu yang berukuran besar bernama leÕes sebesar meriam Ki Amuk. Meriam-meriam tersebut dicor oleh orang-orang Turki dan Aceh yang dipimpin oleh seorang empu, seorang pembelot Portugis bernama Koja Zainal. Crucq selanjutnya berpendapat bahwa meriam yang di Banten kemungkinan dicor oleh Koja Zainal untuk kepentingan Sultan Demak karena memiliki kemiripan dengan meriam-meriam Portugis. Kemudian meriam diberikan Sultan Demak kepada Hasanuddin dan membawanya ke Banten dimana meriam itu menjadi meriam sultan yang sangat dihormati dengan nama Ki Jimat. Dengan dasar itu  K.C.Crucq menghubungkan antara Ki Jimat sama dengan Ki Amuk dan diperkirakan tahunnya adalah 1450 Saka (1528/9 AD).

    Namun argumentasi yang disampaikan oleh Crucq tersebut nampaknya belum sepenuhnya meyakinkan sebagian peneliti. Claude Guillot dan Ludvick Kalus (2008) dalam kajiannya mengenai inskripsi meriam Ki Amuk meragukan argumentasi Crucq yang menyatakan bahwa meriam ini dibuat di awal abad ke-16 dan peleburannya dilakukan di Jawa. Menurut Guillot dan Kalus, inskripsi-inskripsi, ukiran hiasan, dan gelang-gelang pengangkat memerlukan penguasaan teknik tinggi yang belum ditemukan oleh satu pun contoh di Nusantara pada waktu itu. Tapi ada juga yang menyatakan Meriam Ki Amuk merupakan hasil rampasan perang dari Belanda, serta hadiah dari Kompeni Belanda.

    Perbedaan pandangan beberapa peneliti mengenai meriam Ki Amuk yang selalu dikaitkan dengan meriam Ki Jimat dalam masyarakat Banten terdapat pula beberapa pendapat mengenai asal usulnya. Ada empat daerah asal yang selalu disebutkan sebagai daerah asal meriam Ki Amuk yaitu Timur Tengah, Persia, Turki, dan Demak sebagai hadiah raja Banten pertama, Maulana Hasanuddin (Mahmud, 2005: 187). Meriam Ki Jimat dalam Babad Banten pupuh ke-44 menggambarkan bahwa meriam Ki Jimat ketika masa pemerintahan Sultan Abdulmafakhir Muhammad Abdul Kadir berada di perkampungan Candi Raras, dimana terdapat beberapa bangunan, dua diantaranya bernama Made Bobot dan Made Sirap. Di sebelah timur Made Bobot terdapat bangunan terbuka (mandapa), di dalam bangunan dipasang Meriam Ki Jimat, moncongnya terarah ke utara (Djajadiningrat, 1983:57).

    Demikian yang diketahui tentang meriam Ki Amuk yang dikaitkan dengan meriam Ki Jimat hingga saat ini. Dan yang jelas, meriam ini sangat membantu Kesultanan Banten saat berperang melawan penjajah pada zamannya. Jarak tembaknya yang jauh dan suaranya yang menggelegar, menjadikan Meriam Ki Amuk sebagai senjata pamungkas dan andalan yang paling ditakuti sehingga membuat para musuh lari tunggang langgang.

    Cerita Mistis Mengenai Meriam Ki Amuk.

    Meriam Ki Amuk memiliki kemampuan jarak tembaknya yang jauh dan suaranya yang menggelegar. Para tantara Kesultanan Banten menjadikan Meriam Ki Amuk sebagai senjata pamungkas dan andalan yang paling ditakuti sehingga membuat para musuh ciut dan lari tunggang langgang. Oleh karena itulah meriam ini disebut dengan Meriam Ki Amuk. Karena digambarkan dia selalu mengamuk ditengah-tengah pasukan musuh. Selain itu ketika meledak dapat membuat musuh kocar-kacir. Hal ini dibuktikan ketika melawan armada laut Portugis maupun Belanda yang akan mendarat di Pantai Banten pada abad ke-15 dan abad ke-18

    Sebelumnya Ki Amuk diletakan di Pelabuhan Karangantu, akan tetapi karena warga setempat beranggapan meriam ini mempunyai kekuatan gaib. Sehingga banyak warga menjalankan ritual-ritual seperti melempar koin, atau memeluk moncongnya yang konon kalau pergelangan tangannya bisa bertemu maka orang tersebut akan kaya raya. Hal ini dilakukan warga Banten maupun masyarakat dari luar tanah para jawara ini.

    Ada juga cerita legenda rakyat mengenai asal muasal Meriam Ki Amuk ini. Konon kedua meriam kembar ini Ki Amuk dan Si Jagur adalah jelmaan dari prajurit Demak yang dikutuk sehingga berubah wujud menjadi meriam.

    Dikisahkan, pada saat itu wilayah Pelabuhan Banten dikenal sebagai pelabuhan niaga rempah-rempah yang cukup terkenal sampai ke daratan Eropa sehingga banyak menjadi incaran bangsa asing. Sehingga wilayah Banten yang saat itu ada di bawah pemerintahan Kerajaan Demak dalam keadaan terancam.

    Sultan Demak lalu mengirim pasukannya ke Banten di bawah pimpinan prajurit-prajurit pilihannya. Dan di antara prajurit pilihannya itu terdapat tiga bersaudara prajurit yang terjun ke medan laga. Salah satu dari tiga prajurit pilihannya itu adalah seorang wanita.

    Dengan gagah berani mereka memimpin anak buahnya menghadang penyerbuan balatentara Portugis yang datang dari arah laut. Nah, saat menjalankan tugas negara itulah dua kakak beradik lelaki dan perempuan yang ternyata kembar itu melanggar larangan leluhur mereka. Yakni dengan mandi air laut pada waktu matahari bersinar terik. Akibatnya mereka terkena kutukan dan berubah wujud menjadi sepasang meriam.

    Melihat kejadian yang menimpa saudara kembarnya itu, si adik berniat untuk membawa pulang kedua meriam itu ke Demak untuk dipersembahkan pada rajanya. Untuk memudahkan membawanya, kedua meriam itu lalu dipasangi dua buah gelang oleh seorang pandai besi yang bertempat tinggal di sebuah desa di kaki gunung.

    Desa tempat pandai besi yang memberi tambahan gelang pada meriam itu lalu diberi nama Pandaigelang, yang akhirnya menjadi nama Kota Pandegelang. Sebelum dibawa pulang kedua meriam ini dipakai untuk menggempur musuh yang akan mendarat di Pantai Banten.

    Ternyata kedua meriam itu memberi andil yang cukup besar dalam peperangan yang berkecamuk di Pantai Banten tersebut. Kedua meriam itu nampak seperti mengamuk dengan menimbulkan suara menggelegar memuntahkan peluru ke arah musuh-musuhnya. Akibat jasanya itu, kedua meriam itu lalu diberi nama Ki Amuk dan Si Jagur.

    Kondisi terkini Meriam Ki Amuk
    Di Nusantara beberapa meriam seperti Ki Amuk juga diperlakukan sebagai medium ritual, meriam-meriam antara lain meriam Ki Jagur di Museum Fatahillah Jakarta, meriam Polong yang tersimpan di bekas Benteng Somba Opu, Gowa, Sulawesi Selatan, meriam Buntung di Istana Maimun, Medan, Sumatra Utara, meriam Nyi Setomi di Keraton Solo, Surakarta, Jawa Tengah, meriam Laki Bini di Desa Sembuluh, Kec. Danau Sembuluh, Kab. Seruyan, Kalimantan Tengah, meriam Padam Pelita di Kerajaan Matan Tanjungpura, Kab. Ketapang, Kalimantan Barat, meriam Sibenua di Kerajaan Bulungan, Kalimantan Timur, dan lain-lain.

    Kini, lokasi Meriam Ki Amuk berada di Museum Situs Banten Lama, yang terletak di kawasan Banten Lama, tepatnya di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Museum Situs Kepurbakalaan berjarak 12 Km arah utara dari pusat Kota Serang. Namun untuk Meriam Si Jagur sekarang berada di Museum Fatahillah, Jakarta.

    Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama


    Sumber:

    0 Response to "Sejarah Meriam Ki Amuk, Meriam Gahar Peninggalan Kesultanan Dan Cerita Rakyat Banten"

    Post a comment

    Harap meninggalkan komentar dengan bijak dan sesua topik pembahasan ;)

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel