TANGSEL — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Tangerang Selatan tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai seremonial belaka. Wali Kota Benyamin Davnie memanfaatkan momen tasyakuran di Masjid Al-Itishom, Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangsel, untuk menekankan pentingnya persatuan sebagai fondasi pembangunan daerah.
Di hadapan warga yang hadir, Benyamin menyebut interaksi dan kepedulian sehari-hari justru menjadi perekat kerukunan yang lebih kuat dibandingkan kegiatan besar yang sifatnya insidental. Ia mendorong seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan kembali nilai gotong royong di lingkungan masing-masing.
Benyamin mengingatkan agar warga Tangsel menjauhi segala hal yang berpotensi memicu perpecahan. Menurutnya, keberagaman yang ada justru harus dirawat menjadi kekuatan kolektif untuk membangun kehidupan yang harmonis.
"Semangat kebersamaan menjadi modal penting dalam pembangunan Kota Tangerang Selatan. Dengan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, Kota Tangsel diharapkan semakin maju, nyaman, dan sejahtera," ujar Benyamin dalam sambutannya.
Di tengah pesan kebangsaan tersebut, orang nomor satu di Tangsel itu juga menyoroti peran para guru ngaji dalam pendidikan keagamaan. Pemerintah kota berkomitmen terus memberikan insentif bagi mereka yang selama ini bekerja tanpa pamrih.
"Insentif bagi guru ngaji kami coba terus lakukan. Dengan segala keterbatasannya, tidak besar-besar amat, tapi mudah-mudahan membawa manfaat," katanya.
Benyamin berharap dukungan ini bisa meringankan beban para pendidik agama dan memastikan regenerasi nilai-nilai keislaman tetap berjalan di tengah dinamika perkotaan.
Menurut Benyamin, cara terbaik mengisi kemerdekaan adalah dengan terus membangun lingkungan yang aman dan nyaman. Nilai persatuan yang tumbuh dari bawah, kata dia, akan menjadi penopang utama bagi program pembangunan yang dijalankan pemerintah.
"Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia. Mari terus kita maknai semuanya, pemerintahan dan isinya, dengan cara yang terbaik untuk Indonesia dan seluruh Tangerang Selatan," pungkasnya.
Tasyakuran ini menjadi pengingat bahwa pembangunan fisik tanpa diiringi kohesi sosial tidak akan berjalan optimal. Tangsel, sebagai salah satu kota penyangga ibu kota dengan tingkat heterogenitas tinggi, menjadikan kerukunan sebagai prasyarat kemajuan.