BANTEN — Angka ini keluar dari pemantauan mingguan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pekan ini. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut penurunan ini cukup tajam dibanding pekan sebelumnya yang masih bertengger di kisaran Rp42.000 per kg.
"Bawang merah pada kondisi minggu kedua Agustus ini mengalami penurunan yang cukup tinggi juga yaitu turun 10,64 persen atau posisi harganya saat ini Rp37.714 dibandingkan minggu yang lalu harganya Rp42.000," kata Ateng dalam rilis resmi yang dikutip Antara.
Angka Rp37.714 secara nasional memang sudah di bawah HAP tingkat konsumen yang ditetapkan Rp41.500 per kg. Artinya, secara agregat, harga di tingkat konsumen sudah masuk zona wajar.
Tapi cerita berubah drastis saat kita melihat distribusi regional. BPS mencatat sejumlah wilayah di Indonesia bagian timur masih mengalami kenaikan harga, dengan Waropen mencatat harga tertinggi di angka Rp83.500 per kg—jauh di atas HAP dan hampir 2,2 kali lipat rata-rata nasional.
Pola ini sebenarnya klasik untuk komoditas pangan di Indonesia. Sentra produksi bawang merah—seperti Brebes, Nganjuk, dan Bima—terkonsentrasi di Jawa dan sebagian Nusa Tenggara. Sementara permintaan tersebar merata, termasuk ke wilayah timur yang rantai logistiknya panjang dan biaya angkutnya tinggi.
Ditambah sifat bawang merah yang mudah rusak dan butuh penanganan khusus, selisih harga antarwilayah pun melebar. Waropen yang terpencil dan bergantung pasokan dari luar daerah otomatis menanggung ongkos distribusi yang jauh lebih mahal.
Bagi konsumen di Jawa dan Sumatera, penurunan ini kabar baik—harga di pasar tradisional seharusnya mulai ikut melandai dalam beberapa hari ke depan. Namun jangan kaget kalau di pasar-pasar Indonesia Timur harga belum banyak bergerak; data nasional memang tidak menggambarkan kondisi lokal.
Bagi pedagang, penurunan 10,64 persen dalam sepekan adalah sinyal risiko. Stok yang dibeli di harga Rp42.000 pekan lalu kini secara nilai pasar sudah turun—margin menyempit, dan mereka yang menahan stok berpotensi rugi jika tren penurunan berlanjut.
BPS sendiri belum menyebut faktor spesifik di balik penurunan ini, apakah dorongan panen raya di sentra produksi atau melemahnya permintaan. Yang jelas, posisi harga saat ini sudah 9,1 persen di bawah HAP, memberi ruang bagi stabilitas harga pangan secara umum di sisa bulan Agustus.
Pola yang perlu diwaspadai: penurunan tajam seperti ini kadang diikuti koreksi naik jika pasokan terganggu. Pantau terus data mingguan BPS sebelum mengambil keputusan stok jangka panjang.