Main HP Saat Naik Motor Bukan Sekadar Pelanggaran, Ini Risiko yang Harus Dipahami Pengendara

Penulis: Yoga Permadi  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 11:51:01 WIB
Pengendara sepeda motor terlihat menggunakan ponsel saat berkendara di jalan raya.

BANTEN — Distraksi akibat gadget bukan masalah sepele. Ketika mata beralih ke layar ponsel—meski hanya untuk sekilas membaca notifikasi—pengendara sepeda motor kehilangan momen krusial untuk melihat kendaraan di depan, pejalan kaki, atau lubang di aspal. Kejadiannya bisa berlangsung dalam hitungan detik, dan dampaknya sering kali tidak bisa ditarik kembali.

Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati (WMS), Agus Sani, menegaskan bahwa kecelakaan akibat distraksi semacam ini sangat berisiko karena terjadi tanpa peringatan. WMS, sebagai Main Dealer Honda untuk wilayah Jakarta dan Tangerang, rutin mengkampanyekan keselamatan berkendara dengan fokus pada kebiasaan kecil yang sering diabaikan pengendara.

Aturan Hukum: Konsentrasi Penuh Itu Wajib, Bukan Saran

Dasar hukumnya jelas. Pasal 106 ayat (1) UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Artinya, mengoperasikan ponsel saat motor berjalan—baik untuk membalas chat, membuka media sosial, atau sekadar mengganti lagu—secara hukum sudah masuk kategori pelanggaran karena secara sadar pengendara membagi fokusnya. Konsekuensinya bukan hanya soal tilang, tapi juga tanggung jawab hukum jika terjadi kecelakaan.

Kebiasaan yang Harus Diubah Sebelum Berkendara

Larangan total menggunakan gadget bukan berarti pengendara harus anti-teknologi. Kuncinya ada pada manajemen waktu dan persiapan. WMS menekankan beberapa kebiasaan sederhana yang bisa mencegah godaan untuk menyentuh ponsel di tengah perjalanan.

Pertama, siapkan semua kebutuhan sebelum motor mulai bergerak. Cek rute perjalanan, baca pesan penting, dan atur tujuan di aplikasi navigasi sebelum berangkat. Dengan begitu, tidak ada alasan untuk membuka ponsel saat motor sudah melaju.

Kedua, posisikan perangkat navigasi di tempat yang aman—tidak menghalangi pandangan dan tidak mengganggu kendali stang. Namun perlu diingat, layar navigasi hanya boleh dilihat sekilas. Prioritas utama tetap kondisi jalan di depan, bukan petunjuk arah di layar.

Berhenti di Tempat Aman: Satu-Satunya Cara yang Benar

Kalau ada panggilan masuk atau pesan yang benar-benar tidak bisa ditunda, carilah lokasi aman untuk berhenti terlebih dahulu. Menghentikan motor di bahu jalan, rest area, atau tempat parkir sebelum menggunakan ponsel jauh lebih baik daripada mencoba membaca pesan sambil tetap melaju.

Prinsip yang disampaikan Agus Sani cukup sederhana: saat motor berjalan, fokus ke jalan. Saat ingin menggunakan gadget, berhenti dulu. Kebiasaan kecil ini, kalau dilakukan konsisten, bisa menjadi pembeda antara tiba di tujuan dengan selamat atau mengalami insiden yang sebenarnya bisa dicegah.

Notifikasi yang masuk tidak harus selalu direspons saat itu juga. Pesan, panggilan, atau update media sosial bisa menunggu sampai perjalanan selesai. Mengalahkan rasa penasaran untuk langsung membuka ponsel adalah bagian dari disiplin berkendara yang jarang disadari.

Yang Perlu Diperhatikan: Kesadaran Masih Jadi Masalah Terbesar

Kampanye keselamatan seperti yang dilakukan WMS memang penting, tapi efektivitasnya bergantung pada kesadaran individu. Regulasi sudah ada, edukasi terus digencarkan, namun praktik main HP saat berkendara masih mudah ditemui di jalanan Indonesia.

Faktanya, kecelakaan akibat distraksi tidak pernah memandang jarak tempuh. Bahkan di perjalanan pendek sekalipun, satu detik kehilangan fokus bisa berujung pada tabrakan dengan kendaraan lain atau kehilangan kendali motor. Ini bukan soal seberapa terampil seseorang mengendarai motor, melainkan soal seberapa cepat reaksi saat situasi darurat muncul—dan reaksi itu tidak akan optimal kalau perhatian sedang tertuju ke layar.

Pada akhirnya, menjaga konsentrasi saat berkendara adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan pengguna jalan lain. Motor tidak memberi ruang untuk multitasking. Yang bisa dilakukan pengendara hanyalah memilih: fokus ke jalan, atau berhenti dulu sebelum menyentuh ponsel.

Reporter: Yoga Permadi
Sumber: otorider.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top