BANTEN — Adam Mosseri memberikan kesaksian di pengadilan federal Oakland, California, pekan ini. Ia membantah tuduhan bahwa Meta sengaja menunda mengaktifkan fitur Take a Break sebagai pengaturan bawaan selama hampir tiga tahun setelah peluncurannya pada 2021.
Dalam pemeriksaan oleh Jaksa Colorado Jason Slothouber, Mosseri mengungkap data uji coba awal fitur tersebut. Lebih dari 90 persen remaja yang mengaktifkannya secara manual memilih untuk tetap mempertahankannya. Namun, angka partisipasi sukarela dari pengguna lain sangat rendah.
"Sebagian besar remaja tidak menginginkannya," kata Mosseri dalam persidangan, dikutip dari Reuters, Kamis (24/10).
Sebelum Mosseri, Direktur Desain Produk Instagram Francesco Fogu memberikan kesaksian yang tak kalah penting. Fogu mengakui timnya telah mempresentasikan materi keselamatan remaja kepada pimpinan Instagram pada 2023.
Salah satu slide dalam presentasi tersebut menunjukkan pengguna remaja melihat konten perundungan, bunuh diri, kebencian, seksual, dan kekerasan 1,5 kali lebih banyak dibandingkan pengguna dewasa. Mosseri mengklaim slide tersebut telah dihapus.
Persidangan ini merupakan gugatan gabungan yang diajukan 29 negara bagian AS. Mereka menuduh Meta melanggar hukum federal dengan mengumpulkan data anak di bawah usia 13 tahun secara ilegal melalui Instagram dan Facebook.
Jika terbukti bersalah, Meta berpotensi menghadapi hukuman finansial mencapai US$200 miliar atau setara Rp 3.300 triliun. Para pengamat hukum menilai kasus ini menjadi ujian terbesar bagi regulasi dampak media sosial terhadap remaja di Amerika Serikat.
Kesaksian Mosseri menjadi krusial karena ia adalah saksi sentral yang memahami keputusan produk Instagram secara langsung. Pernyataannya tentang rendahnya adopsi fitur keselamatan secara sukarela justru memperkuat argumen jaksa bahwa Meta perlu dipaksa melindungi pengguna muda.