SERANG — Anggota Komisi V DPRD Banten Yeremia Mendrofa meminta pemerintah tidak hanya fokus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau, tetapi juga dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak erupsi. Pemantauan sebaran abu vulkanik dan kualitas udara secara real time dinilai krusial untuk menentukan langkah mitigasi.
Menurut Yeremia, data yang cepat dan akurat mengenai wilayah terdampak akan membuat penanganan pemerintah lebih tepat sasaran. Informasi tersebut juga menjadi dasar untuk mengantisipasi potensi gangguan kesehatan warga akibat paparan abu vulkanik.
Yeremia mendorong penguatan perlindungan kepada masyarakat dengan memastikan layanan kesehatan selalu siaga. Hal ini penting untuk melayani warga yang mengalami gangguan kesehatan imbas erupsi.
“Kami mendorong adanya penguatan perlindungan kepada masyarakat, yakni dengan memastikan layanan kesehatan selalu siaga dalam melayani masyarakat terdampak erupsi Anak Krakatau ini,” ujar Yeremia, Senin, 7 September 2026.
Sejumlah kebijakan telah diberlakukan sebagai respons terhadap kondisi tersebut. Pemerintah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi jenjang SMA, SMK, dan Sekolah Khusus di Banten selama 7–9 September 2026.
Badan Gizi Nasional (BGN) turut menghentikan sementara distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) selama tiga hari di wilayah terdampak. Yeremia mendukung langkah itu karena kesehatan dan keselamatan anak harus menjadi pertimbangan utama.
“Yang ingin saya tekankan adalah bahwa pendidikan memang penting, tetapi keselamatan dan kesehatan anak-anak didik kita adalah hal yang lebih utama,” katanya.
Yeremia mengingatkan masyarakat agar mengikuti informasi resmi dan tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau. Ia berharap pemantauan aktivitas gunung, sebaran abu, dan kualitas udara menjadi bagian dari sistem mitigasi terintegrasi antara pemerintah daerah dan instansi terkait.