PANDEGLANG — Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda sempat mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Suara gemuruh, dentuman, dan semburan lava menyertai aktivitas vulkanik tersebut sebelum akhirnya mereda pada Minggu, 6 September 2026 dini hari.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengimbau masyarakat pesisir tidak mudah percaya pada informasi potensi tsunami yang belum terverifikasi. Tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascalongsor dan tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 saat ini masih relatif kecil, sehingga belum berpotensi memicu gelombang tsunami besar.
BNPB bersama PVMBG tetap merekomendasikan penghentian seluruh aktivitas warga, nelayan, operator kapal wisata, dan pendaki dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten juga melarang kapal mendekati kawasan tersebut selama status Siaga berlaku.
Belum ada perintah evakuasi umum bagi warga pesisir Banten dan Lampung. BPBD di kedua provinsi memastikan jalur dan rambu evakuasi sudah disiapkan sebagai bentuk kesiapsiagaan, bukan karena adanya perintah pengungsian.
Langkah pertama yang harus dilakukan keluarga adalah memastikan sumber informasi resmi seperti radio, aplikasi MAGMA Indonesia, atau akun BNPB dan BPBD. Tujuannya agar tidak terpancing kabar yang belum terverifikasi di tengah situasi darurat.
Satu orang dewasa perlu memimpin dan membagi tugas ke anggota keluarga lain. Tentukan siapa yang membawa anak-anak dan lansia, siapa yang mengambil tas siaga, serta siapa yang bertugas mematikan listrik dan gas.
Tas siaga idealnya sudah dikemas sejak status gunung naik ke level Siaga. Isi minimalnya berupa dokumen penting, obat-obatan, masker, senter, air minum, dan makanan siap saji untuk kebutuhan tiga hari.
Kenakan pakaian tertutup, sepatu, dan masker sebelum meninggalkan rumah untuk melindungi diri dari hujan abu vulkanik yang mungkin turun di area terdampak.
Matikan aliran listrik dan gas untuk mencegah korsleting atau kebakaran saat rumah ditinggalkan. Pastikan tidak ada anggota keluarga yang tertinggal dengan memeriksa kembali kamar anak-anak dan lansia.
Titik kumpul keluarga sebaiknya sudah disepakati sejak awal dan idealnya searah dengan jalur evakuasi resmi yang ditetapkan BPBD setempat. Jauhi kawasan pantai dan pelabuhan yang berada di dalam radius bahaya, lalu bergerak menuju dataran yang lebih tinggi.
Pada tahap akhir, keluarga harus mengikuti rambu evakuasi dan arahan petugas di lapangan, bukan mengambil keputusan berdasarkan asumsi sendiri. Saling mengabari kerabat melalui pesan singkat juga penting dilakukan karena jaringan komunikasi bisa padat saat kondisi darurat.
BNPB menyarankan keluarga di wilayah rawan menyiapkan tas siaga yang sudah terisi dan diletakkan di tempat mudah dijangkau. Jalur evakuasi dan titik kumpul yang sudah dikenali seluruh anggota keluarga, termasuk jalur alternatif jika jalan utama padat, juga perlu dipahami bersama.
Simpan nomor kontak darurat BPBD setempat dan kerabat di luar zona bahaya sebagai titik komunikasi saat keadaan genting. Dengan persiapan tersebut, keluarga tidak perlu berpikir panjang ketika sirene atau imbauan evakuasi benar-benar berbunyi.