BANTEN — Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp17.885 per dolar AS pada Senin (12/10) pagi, menguat 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Penguatan mata uang Garuda sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona hijau, ditopang penurunan harga minyak dunia dan indeks dolar AS.
Pergerakan rupiah senada dengan tren kawasan. Peso Filipina menguat 0,12 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,13 persen, dolar Singapura naik 0,09 persen, yen Jepang menguat 0,09 persen, dan won Korea Selatan memimpin dengan penguatan 0,31 persen. Hanya yuan China yang melemah tipis 0,01 persen, sementara dolar Hong Kong stagnan.
Mata uang utama negara maju juga kompak menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa dan poundsterling Inggris masing-masing naik 0,11 persen, dolar Australia menguat 0,10 persen, dolar Kanada naik 0,02 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,07 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai penurunan harga minyak dunia dan indeks dolar AS menjadi faktor utama di balik penguatan rupiah pagi ini.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak dunia dan indeks dolar," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Sentimen tambahan datang dari harapan meredanya kelangkaan bahan bakar diesel. Rusia disebut akan melepas pasokan setiap hari atas permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sehingga tekanan pada pasar energi global berpotensi berkurang.
Meski dibuka menguat, lanjut Lukman, ruang apresiasi rupiah diperkirakan terbatas. Situasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas menjadi penahan utama.
"Penguatan diperkirakan terbatas oleh situasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas," katanya.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Bagi investor dan pelaku bisnis, level Rp17.885 masih berada di sekitar batas atas rentang proyeksi analis. Pergerakan harian yang tipis ini menunjukkan pasar menunggu konfirmasi arah indeks dolar AS dan perkembangan pasokan energi global.
Importir yang membutuhkan dolar untuk pembayaran utang atau bahan baku bisa memanfaatkan momentum penguatan terbatas ini. Sebaliknya, eksportir perlu mencermati potensi pembalikan arah jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat.