BANTEN — Kementerian Ekonomi Kreatif menilai pemanfaatan kecerdasan buatan di sektor manufaktur menjadi kunci peningkatan produktivitas dan daya saing industri nasional. Penerapan teknologi ini berpotensi menekan biaya operasional sekaligus membuka peluang inovasi produk dan penciptaan nilai tambah bagi perekonomian.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI, Muhammad Neil El Himam, menyatakan AI membuka ruang bagi Indonesia untuk menciptakan sumber nilai tambah baru. Menurutnya, transformasi menuju industri berbasis AI hanya berjalan optimal jika pemerintah, pelaku usaha, dan ekosistem kreatif bergerak bersama.
"AI membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menciptakan nilai tambah baru, tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga mendorong inovasi produk dan lahirnya talenta digital. Transformasi menuju industri berbasis AI akan berjalan optimal jika pemerintah, pelaku usaha, dan ekosistem kreatif bergerak bersama," kata Neil.
Penerapan AI di industri manufaktur kini bergeser dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari keberlangsungan kegiatan operasional dan pengembangan perusahaan. Dari sisi ekonomi, penggunaan teknologi tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat kemampuan perusahaan dalam berinovasi.
Perubahan ini membuat AI tidak lagi dipandang sebagai proyek percontohan, melainkan investasi jangka panjang yang menyentuh lini produksi, rantai pasok, hingga layanan purnajual.
Sektor manufaktur merupakan salah satu penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto Indonesia dan penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Karena itu, peningkatan produktivitas di sektor ini berdampak langsung pada kinerja ekonomi nasional secara keseluruhan.
Adopsi AI memungkinkan perusahaan memangkas waktu henti mesin, mengoptimalkan perencanaan produksi, dan menekan pemborosan bahan baku. Bagi pelaku usaha, efisiensi semacam ini menjadi bantalan penting di tengah tekanan biaya energi dan fluktuasi kurs yang memengaruhi harga bahan baku impor.
Neil menekankan lahirnya talenta digital sebagai salah satu hasil yang diharapkan dari transformasi berbasis AI. Tanpa ketersediaan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan dan merawat sistem AI, investasi teknologi berisiko tidak memberi hasil maksimal.
Kebutuhan ini membuka peluang bagi institusi pendidikan vokasi, pusat pelatihan kerja, dan program reskilling korporasi. Pekerja lini produksi dituntut memiliki kemampuan literasi data dasar agar bisa bekerja berdampingan dengan sistem otomatis.
Keberhasilan transformasi industri berbasis AI bergantung pada sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan ekosistem kreatif. Pemerintah berperan menyiapkan regulasi, insentif, dan infrastruktur digital. Pelaku usaha menyediakan investasi dan penerapan di lantai produksi, sementara ekosistem kreatif memasok inovasi produk dan layanan turunannya.
Bagi investor, arah kebijakan ini menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur yang mengadopsi teknologi diprediksi memiliki daya tahan lebih baik terhadap tekanan biaya. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan AI cenderung mencatat margin lebih stabil dan posisi kompetitif lebih kuat di pasar domestik maupun ekspor.