BANTEN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 131,36 poin atau 2,22% ke level 5.811 pada perdagangan Kamis (15/10/2026) pukul 11.00 WIB. Tekanan jual masif terjadi di hampir seluruh sektor saham seiring sentimen negatif dari data inflasi Amerika Serikat dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan volume transaksi pagi ini mencapai 17,44 miliar saham dengan nilai Rp7,27 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 909 ribu kali.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 76 saham yang berhasil menguat. Sebanyak 635 saham melemah dan 77 saham stagnan, menegaskan dominasi aksi jual di pasar.
Sepanjang sesi pagi hingga siang, IHSG terus terjerembab ke zona merah. Indeks bergerak dalam rentang 5.917 hingga menyentuh level terlemah 5.804.
Tekanan jual yang semakin deras membuat IHSG tak mampu keluar dari tekanan. Pergerakan ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko pasar global yang meningkat.
IHSG tidak sendirian. Mayoritas bursa saham Asia mengalami penurunan pada sesi yang sama. Shanghai Composite Index tercatat turun 1,98%.
Korelasi pelemahan ini menunjukkan sentimen eksternal menjadi pemicu utama. Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan memicu ekspektasi kebijakan moneter ketat berlanjut.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menambah beban pasar saham Indonesia. Investor asing cenderung menarik dana dari aset berisiko di negara berkembang saat mata uang lokal terdepresiasi.
Kombinasi inflasi AS dan tekanan kurs membuat pelaku pasar menahan diri. Aksi jual lebih dominan dibanding aksi beli, terlihat dari rasio saham melemah terhadap saham menguat yang mencapai hampir 8 banding 1.
Investor perlu memantau perkembangan data inflasi AS dan pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. Kedua faktor ini akan menentukan arah IHSG selanjutnya.
Level 5.800 menjadi support psikologis yang penting. Jika indeks bertahan di atas level itu, potensi rebound teknikal masih terbuka. Sebaliknya, penembusan ke bawah level tersebut bisa memicu tekanan jual lanjutan.
Sektor perbankan dan komoditas biasanya menjadi penentu arah indeks. Kedua sektor ini menyumbang bobot besar dalam kapitalisasi pasar IHSG.