BANTEN — Brighton & Hove Albion menghancurkan Crystal Palace 5-0 di Premier League dan mengakhiri paceklik empat derby tanpa kemenangan. Kemenangan terbesar musim ini menempatkan Brighton sebagai kandidat serius finis di lima besar, zona yang bisa mengantar mereka ke Liga Champions untuk pertama kalinya.
Duel di Amex Stadium berjalan baru sepuluh menit ketika papan skor sudah menunjukkan angka 3-0. Gol pembuka lahir dari umpan silang yang berbelok ke gawang sendiri lewat kepala Jaydee Canvot, tapi kesalahan itu lahir dari intensitas pressing Brighton yang menyesakkan sejak sepak mula.
Gol kedua menjadi momen paling dramatis laga ini. Diego Gómez melepas tembakan terukur dari area tengah lapangan Palace, melewati kiper dengan akurasi yang nyaris sempurna. Brighton menutup babak pertama dengan keunggulan tiga gol tanpa balas.
Catatan statistik memperkuat dominasi tuan rumah. Sebanyak 11 pemain berbeda sudah mencetak gol untuk Brighton di Premier League musim ini, angka yang menggambarkan tim tanpa bintang individu tunggal. Kolektif jadi kekuatan utama Fabian Hürzeler.
Nama paling menonjol musim ini justru bukan pemain baru. Pascal Gross, yang kembali pada Januari setelah satu setengah tahun membela Borussia Dortmund, memimpin Premier League dalam empat kategori sekaligus: empat assist, jarak tempuh terjauh, tiga gol, dan rata-rata 3,0 key pass per pertandingan.
Mendatangkan kembali pemain berusia 35 tahun itu terbukti jadi langkah jitu. Gross menjadi penghubung antara lini tengah dan serangan, sekaligus mempercepat adaptasi pemain anyar seperti Luka Vuškovi? dan Chema Andrés.
Perubahan Brighton dalam beberapa bulan terakhir tajam. Februari lalu mereka kalah 1-0 dari Palace, memperpanjang rekor buruk menjadi hanya satu kemenangan dari 12 laga Premier League. Seruan agar Hürzeler dipecat mulai muncul.
Musim panas lalu Brighton kehilangan Carlos Baleba, Jan Paul van Hecke, Danny Welbeck, dan James Milner. Alih-alih ambruk, manajemen merekrut Vuškovi? dari Tottenham dan Chema Andrés dari Stuttgart, dua nama yang kini jadi tulang punggung rotasi.
Kemenangan atas Arsenal sebelum jeda internasional memberi sinyal lebih besar. Arsenal tercekik oleh pressing Brighton, dan dominasi itu bukan kebetulan semata dari dua tembakan jarak jauh ber-xG rendah.
Konteks liga ikut membuka jalan. Selain Arsenal, klub-klub besar sedang dalam masa transisi. Manchester City memulai musim dengan tujuh kemenangan beruntun, tapi ancaman sanksi atas pelanggaran regulasi Premier League bisa mengeluarkan mereka dari persaingan lima besar.
Brighton masih akan mendapat Kaoru Mitoma, Yankuba Minteh, dan Mats Wieffer dalam sebulan ke depan. Kedalaman skuad jadi modal untuk melewati periode padat, termasuk bulan Desember yang selama dua tahun terakhir selalu jadi titik lemah mereka.
Dua klub "B" lainnya bergerak berbeda. Brentford mengawali pekan di posisi ketiga, tapi harus menelan kekalahan 1-2 dari Liverpool setelah Yehor Yarmolyuk dikartu merah jelang turun minum. Bournemouth meraih hasil lebih baik dengan menang 2-0 atas Sunderland.
Brighton kini memikul beban sebagai wajah kelompok klub efisien yang menolak berhenti di pujian finis papan tengah atas. Pertanyaannya sederhana: apakah skuad ini cukup kuat menjaga konsistensi sampai Mei, atau kembali tergelincir seperti musim-musim sebelumnya.