BANTEN — Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47% secara tahunan pada kuartal III-2026, lebih tinggi dari 5,04% pada periode yang sama tahun lalu. Konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi dua penopang utama di tengah pola musiman yang biasanya melambat pada kuartal ketiga.
Angka tersebut dihitung dari Produk Domestik Bruto atas dasar harga konstan yang mencapai Rp 3.633,2 triliun. Sementara PDB atas dasar harga berlaku tercatat Rp 6.741 triliun.
"Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto pada triwulan III-2026 atas dasar harga berlaku sebesar Rp 6.741 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp 3.633,2 triliun," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud di kantor pusat BPS, Kamis (5/11/2026).
Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 1,59% dibanding kuartal II-2026. Edy menyebut laju itu sejalan dengan pola musiman tahunan, ketika kuartal III biasanya bergerak lebih lambat dari kuartal sebelumnya.
Secara kumulatif hingga kuartal III-2026, perekonomian nasional tumbuh 5,45%. Angka ini menjadi acuan awal untuk proyeksi pertumbuhan setahun penuh yang akan dirilis BPS pada awal 2027.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi kekuatan utama. BPS mencatat sejumlah indikator belanja masyarakat bergerak positif hingga kuartal III-2026:
Kenaikan penjualan mobil penumpang sebesar 25,95% menjadi sinyal paling mencolok. Angka itu jauh di atas pertumbuhan volume sepeda motor, menandakan segmen kelas menengah atas masih memiliki ruang belanja yang cukup lebar.
Dari sisi investasi, impor barang modal meningkat 12,22% secara tahunan. Realisasi investasi dalam negeri dan asing tumbuh 7,59%, dengan penanaman modal asing (PMA) melonjak 27,45%.
Belanja modal pemerintah dalam APBN juga tumbuh 20,15%. Kombinasi investasi swasta dan belanja pemerintah ini memberi dukungan tambahan pada pembentukan modal tetap bruto, komponen yang selama ini kerap menjadi titik lemah pertumbuhan.
Aktivitas industri bertahan di jalur ekspansi. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) berada di level 52,75%, sementara Purchasing Managers' Index (PMI) Bank Indonesia tercatat 52,28%.
Dua indikator itu berada di atas ambang 50% yang memisahkan ekspansi dan kontraksi. Keberlanjutan kinerja manufaktur tetap bergantung pada permintaan domestik, pasar ekspor, dan stabilitas biaya produksi.
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Kebijakan moneter itu berjalan beriringan dengan langkah pemerintah mengendalikan inflasi.
Bagi pelaku pasar, kombinasi fiskal dan moneter tersebut menjadi sinyal bahwa otoritas memprioritaskan stabilitas harga ketimbang mendorong pertumbuhan lebih agresif. Imbasnya, ruang penurunan biaya kredit bagi dunia usaha masih terbatas dalam waktu dekat.
Angka 5,47% memang lebih tinggi dari capaian tahun lalu. Namun BPS mengingatkan bahwa pertumbuhan solid belum otomatis menghilangkan tantangan struktural, mulai dari kualitas lapangan kerja hingga pemerataan pendapatan.
Daya beli rumah tangga dan perkembangan harga kebutuhan pokok akan menjadi penentu apakah konsumsi bisa bertahan pada kuartal IV-2026. Realisasi investasi juga perlu diarahkan ke sektor produktif yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.