BANTEN — Waktu untuk memperkuat pertahanan siber disebut semakin sempit. Sejumlah raksasa teknologi dunia memperingatkan bahwa kemampuan AI yang berkembang pesat akan dimanfaatkan para peretas untuk melancarkan serangan yang lebih luas dan sulit dideteksi.
Peringatan ini bukan sekadar wacana. Aliansi intelijen Five Eyes yang berisi Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru pada Juni lalu juga mengeluarkan pernyataan bersama yang menilai revolusi AI berpotensi "mengubah secara fundamental" lanskap keamanan siber global.
Apa yang Disebut Jelas dalam Surat Bersama?
Dalam surat yang dikutip Reuters, perusahaan-perusahaan tersebut menyebut dunia memiliki waktu terbatas sebelum kemampuan AI semakin maju. "Dalam beberapa bulan ke depan, serangan siber berbasis AI akan menjadi jauh lebih meluas dan canggih seiring model di seluruh dunia menjadi semakin mampu," bunyi surat tersebut.
Para penandatangan menilai sistem keamanan yang selama ini dipakai tidak lagi cukup. Masalah lama seperti bug, pemberian akses berlebihan, kesalahan konfigurasi, perangkat lunak yang belum diperbarui, hingga autentikasi lemah membuat banyak organisasi rentan.
Mengapa Infrastruktur Kritis Jadi Sorotan?
Ancaman disebut tidak hanya menyasar perusahaan teknologi. Rumah sakit, fasilitas pengolahan air, hingga infrastruktur yang menopang internet masuk dalam daftar target yang berisiko tinggi.
Tim keamanan di sektor infrastruktur kritis selama ini kekurangan sumber daya. Karena itu, perusahaan-perusahaan tersebut menyerukan peningkatan alat, pendanaan, dan dukungan untuk memperkuat pertahanan di sektor yang paling vital bagi masyarakat.
Apa yang Diminta dari Pemerintah dan Perusahaan AI?
Pemerintah diminta mengoordinasikan pertahanan siber di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Memperkuat saluran berbagi informasi ancaman antara pemerintah dan industri juga menjadi poin utama, termasuk memprioritaskan risiko paling serius dan mengoordinasikan penanganan insiden.
Pendanaan khusus diminta dialokasikan untuk layanan penting yang memiliki keterbatasan tenaga dan anggaran. Di sisi lain, perusahaan AI frontier didorong menyediakan akses model secara bertanggung jawab, pendanaan, pelatihan, dan dukungan langsung bagi operator infrastruktur kritis.
Mereka juga diminta membangun alat observabilitas dan keamanan, memastikan identitas agen AI dapat dilacak, serta berinvestasi pada pengujian resmi dan pelaporan kerentanan secara privat.
AI Juga Jadi Senjata Bertahan
Di tengah kekhawatiran itu, perusahaan-perusahaan tersebut menilai AI memiliki sisi sebaliknya. Teknologi ini dapat memperluas akses terhadap kemampuan keamanan siber, sekaligus membuat pekerjaan mencari kelemahan dan memperbaiki sistem menjadi lebih cepat dan murah.
Alat, panduan, dan penilaian ancaman diminta dibagikan kepada pemerintah, mitra keamanan, dan pengelola proyek open-source. Tujuan akhirnya adalah menggunakan kemajuan AI bukan hanya untuk menghadapi serangan, tetapi juga memperkuat infrastruktur digital secara permanen.
Hingga berita ini ditulis, CISA selaku badan pertahanan siber AS dan Gedung Putih belum memberikan komentar atas seruan terbaru tersebut.