Musim panen durian dan manggis di Kabupaten Lebak, Banten, menyerap ribuan tenaga kerja mulai dari petani, buruh pemetik, hingga pedagang pengecer. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, menyebut komoditas hortikultura ini menjadi andalan ekonomi masyarakat di 17 kecamatan. Lonjakan permintaan pasar membuat para bandar dan pedagang eceran kewalahan melayani pembeli hingga harus merekrut puluhan pekerja tambahan.
LEBAK — Geliat ekonomi masyarakat Kabupaten Lebak tengah meningkat drastis seiring datangnya musim panen durian dan manggis yang melimpah tahun ini. Dinas Pertanian setempat mencatat ribuan tenaga kerja terserap dalam rantai distribusi komoditas tersebut, mulai dari proses pemetikan di kebun, pengangkutan, hingga penjualan di tingkat eceran.
Buah durian dan manggis menjadi penopang pendapatan warga di 17 kecamatan, termasuk Leuwidamar, Cirinten, Gunungkencana, Sobang, Muncang, Bojongmanik, Cijaku, Cigemblong, Cibeber, Cilograng, Bayah, Cipanas, Lebak Gedong, Panggarangan, Cihara, Cikulur, dan Cimarga.
Salah satu bandar penampung buah di Jalan Selatan Rangkasbitung, Acong (50), mengaku harus merekrut 50 tenaga kerja untuk memenuhi permintaan pasar yang terus mengalir. Setiap harinya, ia memasok hingga 5.000 butir durian dengan harga rata-rata Rp20 ribu per butir.
"Kami mendapatkan pasokan durian dan manggis di sejumlah kecamatan di Lebak, seiring musim panen melimpah dari Agustus dan dipastikan Oktober mendatang," kata Acong.
Para konsumen yang dilayani Acong mayoritas merupakan pedagang eceran yang datang dari Rangkasbitung, Jakarta, dan sejumlah daerah di Jawa Barat. Aktivitas ekonomi ini berputar cepat selama puncak musim panen berlangsung.
Di sisi lain, Ade, seorang pedagang di Gang Kibun Rangkasbitung, mengaku kewalahan melayani permintaan durian khas Suku Badui yang memiliki keunggulan dari segi ketebalan daging buah, aroma, dan rasa manis. Untuk memenuhi permintaan pembeli, ia mempekerjakan 10 tenaga kerja.
Setiap harinya, Ade menghabiskan 1.000 butir durian dengan harga rata-rata Rp50 ribu per butir. Dari penjualan tersebut, omzet yang dihasilkan mencapai Rp50 juta per hari.
"Kami merasa kewalahan permintaan durian khas Badui hingga rombongan dan anggota keluarga, sehingga terlayani dengan menyerap 10 tenaga kerja," jelasnya.
Rahmat Yuniar menegaskan bahwa panen raya ini bukan hanya menguntungkan pemilik kebun, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi buruh pemetik, buruh panggul, hingga sopir angkutan. Rantai distribusi yang panjang memastikan uang beredar di tingkat desa sebelum akhirnya dinikmati pedagang di kota.
Kondisi ini dipastikan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dan mewujudkan kesejahteraan selama musim panen berlangsung. Para petani diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki kualitas buah agar daya saingnya tetap terjaga di pasar regional.