BANTEN — Xiaomi Auto mencatat lebih dari 800.000 mobil listrik terjual sejak proyek dimulai 30 Maret 2021, dengan pengiriman 286.475 unit sepanjang 2026. Country Director Xiaomi Indonesia Michael Feng memastikan mobil listrik akan masuk pasar lokal, tetapi produksi setir kanan baru dimulai awal 2028.
Lei Jun mengumumkan proyek besar terakhir dalam hidupnya pada 30 Maret 2021, dengan modal awal CNY10 miliar untuk membangun pabrik di Yizhuang, Beijing. Lima tahun berselang, pabrik itu sudah mengirim lebih dari 800.000 unit mobil listrik ke seluruh China. Kini Xiaomi bersiap membawa kendaraan listriknya ke pasar global, termasuk Indonesia.
Sedan listrik pertama Xiaomi, SU7, mulai dikirim April 2024 dan menembus 139.500 unit hingga akhir tahun. Sepanjang 2025, pengiriman Xiaomi melonjak ke 411.837 unit, dengan SU7 menyumbang 258.164 unit. Angka itu mengalahkan Tesla Model 3 di pasar China. Dua model lain, SUV YU7 dan sedan performa SU7 Ultra, menyusul sebagai penopang volume.
Xiaomi memasang target 550.000 unit untuk 2026. Hingga September, baru 286.475 unit terkirim, atau sekitar 52 persen dari target. Penjualan sempat melandai pada pertengahan tahun setelah produksi SU7 generasi pertama dihentikan. Peluncuran SkyNomad, SUV keluarga berbasis REEV, kembali mendorong angka pengiriman.
Dari sisi finansial, segmen mobil Xiaomi masih mencatat rugi operasi CNY2,6 miliar atau sekitar Rp6,6 triliun pada Kuartal II 2026. Persaingan harga di pasar domestik China disebut menjadi penyebab utama.
Pada pameran IFA Berlin September 2026, Xiaomi menandatangani MoU dengan jaringan diler besar Eropa. Penjualan di benua itu dijadwalkan mulai akhir 2027. Xiaomi memilih menyasar negara maju dan konsumen kelas menengah-atas lebih dulu sebelum masuk ke pasar berkembang.
Produksi mobil setir kanan baru akan dimulai awal 2028. Jadwal itu menjadi penentu kapan Xiaomi Auto bisa dijual di Indonesia, yang menerapkan aturan kemudi di kanan.
Country Director Xiaomi Indonesia, Michael Feng, memastikan rencana ekspansi ke pasar lokal tetap berjalan. "100 persen kami akan membawa produk mobil listrik ke pasar ini, namun saat ini kita masih harus menunggu," ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan posisi Indonesia dalam peta ekspansi Xiaomi. Pasar lokal tidak masuk gelombang pertama Eropa, melainkan menyusul setelah lini produksi setir kanan siap.
Bagi konsumen Indonesia yang menantikan mobil listrik Xiaomi, waktu tunggu hingga 2028 memberi ruang bagi merek lain untuk mengisi pasar lebih dulu. BYD, Wuling, dan sejumlah merek China lain sudah lebih awal membangun jaringan di sini.