BANTEN — Otoritas Jasa Keuangan menyatakan sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan moneter global yang menekan pasar obligasi dunia. Hasil asesmen Rapat Dewan Komisioner bulanan pada 30 September 2026 mencatat yield obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Eropa kembali ke level sebelum 2008, sementara Jepang menyentuh posisi terakhir 1997.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan tekanan eksternal tidak menggoyang fundamental industri jasa keuangan domestik. Inflasi dalam negeri tetap terkendali dan stabil, berbeda dengan lonjakan inflasi di sejumlah negara maju.
"Rapat Dewan Komisioner bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 30 September 2026 menilai sektor jasa keuangan Indonesia stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global," ujar Kiki, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers asesmen sektor jasa keuangan secara daring, Senin (5/10/2026).
Kiki membeberkan imbal hasil obligasi pemerintah di Amerika Serikat dan Eropa terpantau kembali ke level sebelum 2008. Di Jepang, yield obligasi pemerintah menyentuh level yang terakhir terlihat pada 1997.
Lonjakan yield itu dipicu dua faktor. Pertama, kebutuhan pembiayaan pemerintah yang tinggi. Kedua, peningkatan penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan hyperscaler untuk membiayai investasi kecerdasan buatan.
"Kenaikan ini turut dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah dan peningkatan penerbitan obligasi jangka panjang oleh hyperscalers untuk investasi terkait dengan AI," jelas Kiki.
Kenaikan inflasi global akibat eskalasi konflik geopolitik kembali mendorong harga minyak naik. Faktor El Nino turut berpotensi mengerek harga pangan dan komoditas pertanian.
Kondisi itu membuat bank sentral di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang menaikkan suku bunga kebijakan. Pasar masih mengekspektasikan kenaikan lanjutan pada akhir 2026 dan berlanjut ke 2027.
"Kenaikan inflasi telah mendorong kebijakan suku bunga global yang higher for longer, ditandai dengan kenaikan suku bunga kebijakan di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang," beber Kiki.
OJK memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2026 lebih rendah dibanding 2025. Meski melandai, angka proyeksi itu tercatat lebih baik dari perkiraan sebelumnya.
Investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan menjadi pendorong utama