BANTEN — PT Telkom Indonesia memisahkan aset infrastruktur jaringan senilai Rp85,7 triliun ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) melalui RUPS-LB dan penandatanganan akta spin-off. InfraNexia kini mengelola lebih dari 90 persen aset jaringan Telkom, mencakup 112 ribu kilometer fiber optik dan 26 ribu km sistem komunikasi kabel laut domestik. Langkah ini membuka akses jaringan bagi lebih banyak pelaku industri digital lewat model open-access.
Pemisahan aset dilakukan setelah pemegang saham independen menyetujui langkah korporasi tersebut dalam RUPS-LB pada Rabu (30/9). Penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) dilakukan antara Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.
InfraNexia tidak lagi sekadar unit internal Telkom. Perusahaan ini diposisikan sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi terbesar di Indonesia yang melayani pelanggan di luar grup TelkomGroup.
Aset Jaringan yang Dikelola InfraNexia
InfraNexia mengelola lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom. Cakupannya meliputi 112 ribu kilometer jaringan fiber optik dan 26 ribu km sistem komunikasi kabel laut (SKKL) domestik.
Skala jaringan sebesar itu membentang di berbagai wilayah Indonesia. Dengan konsolidasi ini, InfraNexia disebut memiliki fleksibilitas lebih besar untuk meningkatkan utilitas jaringan yang sebelumnya tersebar di beberapa entitas.
Model Bisnis Open-Access dan Carrier-Neutral
InfraNexia menjalankan model bisnis open-access dan carrier-neutral melalui dua lini usaha: wholesale connectivity dan wholesale FTTx. Layanan ini mencakup konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama.
Pelanggan dapat menyesuaikan layanan dengan kebutuhan kapasitas, cakupan, dan model bisnis masing-masing. Artinya, operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, hingga perusahaan digital tidak perlu membangun jaringan sendiri untuk memperluas jangkauan.
Alasan Telkom Memisahkan Aset Jaringan
Nanang menyatakan pemisahan ini bertujuan mempertajam fokus bisnis dan produktivitas aset infrastruktur. "Kami yakini InfraNexia menjadi penyedia infrastruktur terbesar di Indonesia, dengan jaringan yang membentang di berbagai wilayah Indonesia, dapat semakin mempertajam fokus bisnis dan produktivitas aset infrastruktur sehingga kontribusi terhadap pendapatan segmen business to business infrastructure TelkomGroup menjadi jauh lebih besar," ujarnya.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menambahkan, konsolidasi aset memberi ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk memperluas kolaborasi dengan pelaku ekosistem digital nasional. "Skala infrastruktur yang semakin besar yang dikelola InfraNexia memberi fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi beragam kebutuhan pelanggan," jelas Seno.
Seno menegaskan fokus perusahaan tidak hanya memperluas pemanfaatan aset. "Fokus kami tidak hanya memperluas pemanfaatan aset tapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi pondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra, layanan digital dan mendukung penguatan ekosistem serta kedaulatan digital Indonesia," tambahnya.
Arah Baru: Infrastruktur Siap AI
Lukman memaparkan InfraNexia akan mengarahkan pengelolaan jaringan ke AI Ready Infrastructure. Jaringan yang kian terintegrasi dan scalable disiapkan menjadi pondasi pertumbuhan AI, cloud, dan data center di Indonesia.
"Dengan jaringan yang kian terintegrasi dan scalable, InfraNexia ingin menghadirkan pondasi yang dapat mendukungan pertumbuhan AI, cloud, data center serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan, sekaligus membuka lebih banyak bagi mitra kami untuk memperluas layanan tanpa harus mengembangkan jaringan infrastruktur sendiri," ujar Lukman.
Bagi pelaku bisnis digital dan investor, spin-off ini menandai pergeseran model pengelolaan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Aset jaringan yang sebelumnya eksklusif untuk kebutuhan internal TelkomGroup kini dibuka untuk pasar yang lebih luas, sejalan dengan tren pemisahan menara dan fiber optik yang sudah berjalan di sejumlah negara Asia Tenggara.