BANTEN — Jorge Martin harus puas finis ketiga di MotoGP Mandalika dengan selisih 6,890 detik dari Marco Bezzecchi, rekan setimnya di Aprilia. Rider Spanyol itu mengaku kesulitan menyamai kecepatan Bezzecchi dan Raul Fernandez di dua tikungan cepat Sirkuit Mandalika. Keterbatasan data menjadi penyebab utama, karena Martin absen di GP Indonesia musim lalu akibat cedera.
Jorge Martin menyelesaikan balapan MotoGP Mandalika di posisi ketiga, tertinggal 6,890 detik dari Bezzecchi yang keluar sebagai pemenang. Hasil itu membuat Martin harus mengakui keunggulan dua pembalap Aprilia lainnya, termasuk Raul Fernandez dari tim satelit Trackhouse.
Dalam wawancara dengan Crash, Martin membeberkan sumber masalahnya. Bukan soal performa mesin RS-GP, melainkan cara dia mengelola ban di tikungan-tikungan cepat Sirkuit Mandalika.
Martin menyebut ada dua tikungan di mana Bezzecchi dan Fernandez bisa melaju lebih cepat tanpa mengalami wheelspin berlebihan. Kondisi sebaliknya justru dialami Martin.
"Tampaknya di tikungan-tikungan cepat mereka mampu melaju lebih cepat dengan spin yang lebih sedikit, sementara ban saya malah spin luar biasa," ucap Martin dikutip dari Crash.
Selisih waktunya konsisten. Martin kehilangan sekitar satu persepuluh detik di masing-masing tikungan tersebut, dan itu terjadi berulang sepanjang akhir pekan.
"Ada dua tikungan di mana saya tidak bisa menyamai kecepatan mereka. Saya mencoba menganalisis bagaimana cara mereka melakukannya, tetapi saya selalu kehilangan satu persepuluh detik di masing-masing tikungan itu," kata dia.
Masalah Martin bukan sekadar setelan motor. Musim lalu dia absen di GP Indonesia karena cedera, sehingga tidak punya data dan pengalaman mengendarai Aprilia RS-GP di Mandalika.
Bezzecchi dan Fernandez berada di posisi berbeda. Keduanya sudah punya basis data lengkap serta setelan motor yang matang untuk sirkuit ini.
"Terkadang saya merasa jika saya tidak membalap di sirkuit tersebut pada tahun sebelumnya, saya agak kesulitan menyamai kecepatan mereka. Namun di lain kesempatan, saya tidak merasa kerepotan," ujarnya.
Martin mencoba mengejar ketertinggalan di sektor lain yang lebih dia kuasai. Upaya itu berhasil menempatkannya di podium, tapi tidak cukup untuk menantang rekan setimnya.
Sepanjang balapan, Martin berusaha menutup selisih di bagian trek yang membuatnya nyaman. Strategi itu membuahkan peningkatan performa dibanding hari pertama latihan.
"Saya kemudian berusaha mengejar ketertinggalan di bagian trek lainnya di mana saya merasa nyaman," kata Martin.
Namun dua tikungan cepat tetap menjadi tembok. Setiap kali Martin mencoba menyamai kecepatan Bezzecchi dan Fernandez, data menunjukkan keduanya masih bisa melangkah lebih jauh.
"Namun di dua tikungan itu, setiap kali saya mencoba menyamai kecepatan mereka dan melihat datanya, mereka justru bisa melangkah lebih jauh lagi! Dan hal itu terjadi sepanjang akhir pekan," ucapnya.
Martin juga menyoroti jumlah putaran yang dia jalani. Menurutnya, pebalap lain mungkin sudah menemukan langkah maju sejak musim lalu, sementara dia baru musim ini mencoba menyamai mereka.
"Tentu saja performa saya jauh meningkat sepanjang akhir pekan ini dibanding hari pertama, tetapi saya rasa saya kekurangan jumlah putaran," ujar Martin.
Soal potensi motor, Martin tidak menyalahkan Aprilia. Dia justru mengakui tidak bisa memanfaatkan potensi ekstra RS-GP saat performa motor sedang berada di level terbaik.
"Untuk yang satu ini memang seperti itu: saya tidak bisa memanfaatkan potensi ekstra dari Aprilia ketika performa motor sedang sangat bagus," kata Martin.
Hasil di Mandalika tetap menjadi modal penting bagi Martin. Podium ketiga di sirkuit yang nyaris tanpa data baginya menunjukkan adaptasi yang berjalan, meski jarak dengan rekan setimnya masih perlu dipangkas di tikungan cepat.