Bulan Imunisasi Kejar Pekanbaru Jangkau 4.957 Bayi, Lampaui Target 150 Persen

Penulis: Vikri Alfandi  •  Selasa, 03 November 2026 | 14:50:01 WIB
Petugas kesehatan melayani imunisasi bayi dalam Bulan Imunisasi Kejar di Pekanbaru.

BANTEN — Sebanyak 4.957 bayi di Pekanbaru berhasil dijangkau dalam Bulan Imunisasi Kejar 2026, melampaui target pemerintah pusat yang hanya 3.314 bayi. Capaian 150 persen ini menempatkan Pekanbaru di posisi kedua se-Riau, dan jadi pengingat penting bagi ibu untuk melengkapi imunisasi si kecil sesuai jadwal.

Angka 4.957 bayi itu datang dari pendataan petugas kesehatan yang menyisir wilayah Kota Pekanbaru sepanjang 1-31 Oktober 2026. Sasaran utamanya bayi usia 3 sampai 11 bulan yang belum pernah menerima imunisasi dosis pertama vaksin DPT-HB-Hib-1.

Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar menyebut hasil ini sebagai bukti kerja petugas kesehatan di lapangan berjalan sesuai harapan. Ia juga menegaskan capaian tersebut bukan sekadar angka di atas kertas.

"Alhamdulillah, capaian kita sudah lampaui target. Dari target yang ditetapkan pusat sebanyak 3.314 itu, ternyata kita berhasil mendapatkan lebih," kata Markarius di Pekanbaru.

Apa Itu Bulan Imunisasi Kejar dan Mengapa Penting untuk Bayi

Bulan Imunisasi Kejar adalah program pemerintah untuk mengejar anak-anak yang belum mendapat imunisasi lengkap, terutama kelompok zero dose atau yang sama sekali belum pernah divaksin. Program ini menyasar bayi yang terlewat karena berbagai sebab, misalnya sakit saat jadwal imunisasi atau orang tua belum sempat membawa ke posyandu.

Bayi usia 3-11 bulan jadi prioritas karena di rentang usia itu perlindungan dari penyakit seperti difteri, pertusis, hepatitis B, dan pneumonia sangat menentukan. Vaksin DPT-HB-Hib-1 sendiri melindungi dari difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, dan infeksi Hib penyebab radang otak.

Bukan Hanya Satu Vaksin, Ini Jenis Imunisasi yang Diberikan

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Deddy Sambudi menjelaskan petugas tidak hanya menyuntikkan DPT-HB-Hib dosis pertama. Selama program berlangsung, anak-anak juga menerima imunisasi MR dosis kedua, IPV dosis pertama, serta PCV dosis kedua sesuai sasaran dan kebutuhan masing-masing.

Artinya, satu kunjungan ke posyandu bisa mengejar beberapa jenis imunisasi yang tertinggal sekaligus. Bagi ibu yang anaknya sempat absen dari jadwal imunisasi, momen ini jadi kesempatan menuntaskan tanpa harus bolak-balik berkali-kali.

Posisi Pekanbaru di Riau dan Apa Artinya bagi Orang Tua

Capaian ini menempatkan Pekanbaru di urutan kedua tertinggi se-Provinsi Riau dalam intervensi zero dose, setelah Kabupaten Kampar. Posisi tersebut menunjukkan penyisiran petugas ke permukiman warga berjalan cukup masif.

Meski Bulan Imunisasi Kejar sudah berakhir, Deddy memastikan upaya penjangkauan tidak berhenti. Petugas kesehatan akan terus melakukan penyisiran untuk menemukan anak-anak yang belum mendapat imunisasi.

"Kami berharap semakin banyak anak mendapatkan perlindungan dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi," ucapnya.

Kapan Ibu Perlu Segera ke Posyandu atau Puskesmas

Kalau buku KIA si kecil menunjukkan ada jadwal imunisasi yang terlewat, segera bawa ke posyandu atau puskesmas terdekat. Petugas akan mengecek status imunisasi anak dan menentukan dosis kejar yang dibutuhkan sesuai usianya.

Jangan menunda hanya karena anak sedang batuk pilek ringan. Konsultasikan dulu ke tenaga kesehatan, karena banyak kondisi ringan tetap aman untuk imunisasi. Yang perlu perhatian khusus adalah anak dengan demam tinggi, riwayat reaksi alergi berat setelah vaksin sebelumnya, atau kondisi imun tertentu, dan itu harus diputuskan bersama dokter.

Bagi ibu di luar Pekanbaru, prinsipnya sama: cek kelengkapan imunisasi anak di buku KIA, lalu tanyakan ke puskesmas setempat apakah ada program kejar di wilayah Anda. Perlindungan terbaik datang dari imunisasi yang lengkap dan tepat waktu, bukan dari menunggu anak sakit dulu baru bertindak.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top