Pencarian

Kecelakaan Outlander di Surabaya Jadi Pengingat: Mengemudi dalam Kondisi Mabuk Sama dengan Halusinasi

Rabu, 26 Agustus 2026 • 14:20:01 WIB
Kecelakaan Outlander di Surabaya Jadi Pengingat: Mengemudi dalam Kondisi Mabuk Sama dengan Halusinasi
Petugas mengevakuasi kendaraan yang terlibat kecelakaan di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Senin (24/8).

BANTEN — Kecelakaan maut di Jalan Taman Apsari dan Gubernur Suryo, Surabaya, kembali membuka mata publik akan bahaya mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 03.30 WIB itu menewaskan RPK (25), pengemudi pikap Mitsubishi L300 yang tengah memuat barang di pinggir jalan. Insiden ini melibatkan tiga kendaraan sekaligus: Mitsubishi Outlander, taksi listrik VinFast, dan L300 milik korban.

Praktisi keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menyebut kondisi pengemudi yang mabuk tidak ubahnya orang yang berhalusinasi di balik kemudi. Menurutnya, alkohol menurunkan fungsi susunan saraf pusat secara drastis, sehingga kemampuan otak untuk fokus dan mengambil keputusan cepat menjadi terganggu.

"Ya bisa kita bayangin menyetir, tapi berhalusinasi," ujar Sony dalam pernyataannya.

Efek Alkohol yang Merusak Refleks dan Penglihatan Pengemudi

Sony menjelaskan bahwa pengemudi yang berada di bawah pengaruh minuman keras akan kehilangan kemampuan dasar mengemudi. Mereka tidak lagi mampu membaca rambu, lambat bereaksi terhadap situasi di depan, hingga mengalami penurunan ketajaman visual. Lebih parahnya lagi, konsumsi alkohol membuat pengemudi lupa menggunakan alat pengaman seperti sabuk keselamatan atau helm.

"Maka yang seperti itu tidak bisa dibiarkan berkendara karena beresiko kecelakaan. Dampaknya tidak hanya diri sendiri, tapi juga berisiko terhadap pengguna jalan lainnya," tegas Sony.

Efek lain yang tak kalah berbahaya adalah rasa kantuk yang muncul di tengah perjalanan. Kombinasi antara rasa kantuk, penglihatan kabur, dan refleks yang tumpul menjadi resep sempurna terjadinya kecelakaan fatal. Sony pun menegaskan tidak ada takaran aman konsumsi alkohol jika seseorang berniat menyetir setelahnya.

Pengakuan Tersangka: Tujuh Gelas Alkohol dan Hilang Kesadaran

Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Galih Bayu Raditya mengungkapkan kronologi singkat kejadian. Outlander bernopol L 1049 OO yang dikemudikan ENR melaju dari selatan ke utara di Jalan Taman Apsari, lalu melanjutkan perjalanan ke Jalan Gubernur Suryo. Di depan Alun-Alun Surabaya, mobil tersebut menabrak korban yang sedang beraktivitas di dekat pikirannya.

Usai kejadian, ENR langsung ditetapkan sebagai tersangka. Dalam pemeriksaan, ia mengaku baru pulang dari tempat hiburan malam dan telah mengonsumsi minuman keras dalam jumlah banyak. "Dari tempat pesta. [Minum] miras alkohol tujuh gelasan, seperempat-seperempat," aku ENR di Kantor Satlantas Polrestabes Surabaya, Senin (24/8).

Lebih memprihatinkan lagi, ENR mengaku nekat mengemudi pulang sendirian karena tidak menyadari kondisinya yang sudah tidak sadar. "Berangkat sendiri, pulang nyetir sendiri. Saya sendiri juga enggak sadar kalau saya mabuk. Namanya orang mabuk saya enggak sadar," kata ENR.

Fokus dan Kesadaran Adalah Kunci Keselamatan Berkendara

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa mengemudi adalah aktivitas yang menuntut fokus penuh. Kelalaian sekecil apapun, terutama akibat konsumsi alkohol, bisa berujung pada hilangnya nyawa orang lain. Sony menekankan bahwa keselamatan di jalan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga terhadap seluruh pengguna jalan lainnya.

"Jadi pastikan selalu kalau mengemudi fokus dan sadar tentang keselamatan," pungkas Sony.

Follow www.bantenvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks