Pencarian

Barantin dan Pemprov Banten Lepas Ekspor Manggis, Kepiting, dan Walet Senilai Rp40,8 Miliar ke China

Jumat, 21 Agustus 2026 • 17:42:33 WIB
Barantin dan Pemprov Banten Lepas Ekspor Manggis, Kepiting, dan Walet Senilai Rp40,8 Miliar ke China
Manggis, kepiting, dan walet senilai Rp40,8 miliar dilepas untuk diekspor ke China dalam program "Merdeka Ekspor" di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat.

Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melepas ekspor tiga komoditas tropis unggulan—manggis, kepiting, dan walet—senilai Rp40,8 miliar ke pasar China. Pelepasan ekspor melalui program "Merdeka Ekspor" ini digelar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Jumat, sebagai bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

TANGERANG — Nilai ekspor tersebut mencakup produk yang memiliki permintaan tinggi di pasar internasional. Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mendorong daya saing produk lokal agar mampu menembus pasar global dengan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan negara tujuan.

“Bentuknya adalah pelepasan terhadap tiga komoditas ekspor, khususnya ke China, yaitu manggis, kepiting, dan walet,” ujar Karding usai melepas ekspor komoditas tropis di Bandara Internasional Soetta, Tangerang, Jumat.

Hilirisasi Jadi Kunci Nilai Tambah

Karding menekankan bahwa ekspor tidak boleh berhenti pada produk barang mentah. Menurutnya, proses hilirisasi harus terus berjalan agar nilai tambah yang diperoleh semakin besar dan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.

“Hilirisasi nanti harus berjalan. Seperti tadi ada sup walet yang instan itu, kemudian ada mineral walet nanti bisa diekspor, pastinya nilai tambah tenaga kerja jadi banyak,” jelasnya.

Klinik Ekspor untuk Atasi Standar Mutu UMKM

Untuk mendukung peningkatan ekspor, Barantin menghadirkan model layanan bernama Klinik Ekspor. Layanan ini ditujukan untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta petani yang kerap mengalami kendala dalam memenuhi standar internasional.

“Layanan ini berfungsi sebagai sarana pendampingan bagi para pelaku usaha untuk mempersiapkan diri memenuhi standar mutu dan protokol ekspor yang disepakati negara tujuan,” paparnya.

Karding mengakui, tantangan utama yang dihadapi UMKM saat ini berkaitan dengan keterbatasan manajemen standar kualitas, akses permodalan, serta upaya menjaga konsistensi mutu produk di lapangan. “UMKM itu

Follow www.bantenvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: banten.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks