BANTEN — Kiprah Troy Parrott di Real Betis baru dimulai, tapi dampaknya sudah terasa hingga ke London utara. Striker berusia 24 tahun itu tak butuh waktu lama untuk menunjukkan kelasnya, mencetak gol kemenangan ke gawang Real Madrid dan kemudian Lille dalam rentang empat hari. Bagi pendukung Tottenham, ini mungkin pemandangan yang menyakitkan—terlebih saat tim kesayangan mereka justru terpuruk di dasar klasemen Premier League.
Gol Insting yang Menghancurkan Start Sempurna Mourinho
Masuk sebagai pemain pengganti di menit 68 saat melawan Real Madrid, Parrott bereaksi paling cepat terhadap bola muntahan hasil tepisan Thibaut Courtois. Tanpa langkah rumit atau tendangan spekulatif, ia hanya menyodorkan bola ke gawang dari jarak dekat. Gol itu mengakhiri start sempurna Mourinho di periode keduanya menangani Madrid.
"Itu tugas seorang striker. Dalam satu pertandingan, saya mungkin melakukannya 10 kali dan tidak terjadi apa-apa. Jadi ini soal mentalitas untuk terus mencoba dan berharap bola itu datang. Hari ini, itu terjadi," ujar Parrott kepada media Spanyol setelah laga.
Dari "Belum Siap" Versi Mourinho ke Pahlawan Betis
Ironi tak terbantahkan menghiasi momen ini. Mourinho-lah yang memberi Parrott debut Premier League pada Desember 2019 saat Tottenham menang 5-0 atas Burnley. Namun, pelatih asal Portugal itu pula yang kemudian menepisnya dengan menyatakan pemain muda itu belum siap tampil reguler di level tertinggi. Saat Harry Kane dan Son Heung-min cedera pada Maret 2020, Mourinho tetap menolak memberikan kepercayaan penuh padanya.
Karier Parrott nyaris redup setelah menjalani siklus peminjaman yang menyakitkan di Millwall, Ipswich, MK Dons, dan Preston. Semua periode itu berakhir mengecewakan. Jalan berliku itu akhirnya membawanya ke Belanda, tempat kariernya justru melejit. Bersama AZ Alkmaar, Parrott mencetak 51 gol dalam 97 pertandingan—sebuah ledakan produktivitas yang mengundang decak kagum, bahkan disebut-sebut memberi mimpi buruk bagi legenda Robin van Persie.
Investasi £17 Juta yang Langsung Terbukti
Penampilan impresif itu meyakinkan Real Betis mengeluarkan dana £17 juta pada bursa musim panas ini. Debut penuhnya memang mengecewakan—kekalahan telak 5-2 dari Levante membuat pelatih Manuel Pellegrini mengeluhkan kesalahan-kesalahan pemain barunya. Namun Parrott tak larut dalam kritik. Ia bangkit dengan cara yang paling meyakinkan: mencetak gol penentu di dua laga besar beruntun.
Melawan Lille, ia kembali menunjukkan naluri tajamnya dengan memanfaatkan kesalahan bek lawan, Nathan Ngoy, sebelum melepaskan tembakan rendah ke pojok gawang dalam kemenangan 3-2 yang menegangkan. Empat penampilan bersama Betis, dua gol, dua kemenangan penentu, dan satu scalp Real Madrid sudah di tangan.
Perbandingan dengan Tottenham yang Masih Tersendat
Kontrasnya terasa perih bagi pendukung Spurs. Tottenham saat ini tertahan di tiga besar terbawah Premier League dan belum mencetak satu gol pun di liga. Sementara pemain yang pernah mereka pinjamkan berkeliling Inggris itu kini bersinar di Spanyol. Tentu, dua gol belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Spurs melakukan kesalahan transfer terbesar sejak menjual Gareth Bale. Parrott kini berusia 24 tahun, bukan remaja yang dulu diragukan Mourinho. Jalan kariernya penuh liku, dan justru itulah yang membuat kebangkitannya sekarang begitu istimewa.