SERANG — Faisal menilai perkembangan teknologi perlu direspons organisasi mahasiswa tanpa meninggalkan nilai dasar perjuangan. Menurutnya, Kongres HMI XXXIII bukan hanya forum pergantian kepemimpinan, melainkan momentum merumuskan arah organisasi menghadapi perubahan sosial dan teknologi.
"Kongres bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi momentum merumuskan arah HMI agar tetap relevan dengan perubahan zaman, termasuk menghadapi perkembangan artificial intelligence atau AI," ujar Faisal.
Apa Isi Program HMI Intellectual Legacy AI
Program ini menyasar tiga hal sekaligus: perluasan akses pengetahuan, pengembangan materi pembelajaran digital, dan dokumentasi pemikiran tokoh HMI. Dua nama yang disebut eksplisit sebagai sumber pembelajaran adalah Lafran Pane dan Nurcholish Madjid.
Dokumentasi itu diharapkan menjadi bahan belajar yang lebih mudah dijangkau kader lintas generasi. Faisal mendorong pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses belajar kader, memperkuat literasi, serta membuka ruang eksplorasi gagasan.
AI Diminta Tidak Menggantikan Interaksi Antarkader
Faisal menegaskan pemanfaatan AI tidak dimaksudkan menggantikan proses kaderisasi yang bertumpu pada interaksi antarkader, peran instruktur, diskusi kritis, dan pembentukan karakter.
"AI harus kita jadikan instrumen untuk memperkuat kaderisasi, riset, literasi, dan produksi pengetahuan. HMI harus mampu beradaptasi dengan teknologi, bukan tertinggal oleh perubahan," katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga independensi intelektual di tengah kemudahan akses informasi digital. Kader HMI, menurutnya, perlu mampu memanfaatkan teknologi sekaligus menguji informasi, menyusun argumentasi, dan mempertahankan sikap kritis.
"Kader harus menguasai teknologi, tetapi tetap memiliki nalar kritis dan independensi," ujarnya.
Rekam Jejak Organisasi dan Pendidikan Faisal
Faisal bukan nama baru di kepengurusan HMI. Ia pernah menjabat Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) HMI Komisariat FKIP, lalu Ketua Umum HMI Cabang Serang periode 2019–2020.
Ia juga tercatat sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Badko Jabodetabeka-Banten dan fungsionaris Pengurus Besar HMI periode 2023–2025.
Dari sisi akademik, Faisal merupakan lulusan S-1 Pendidikan Sosiologi dan S-2 Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Saat ini ia tengah menempuh pendidikan doktoral Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid Jakarta.
Harapan Faisal untuk HMI ke Depan
Gagasan HMI Intellectual Legacy AI berfokus menghubungkan tradisi intelektual organisasi dengan perkembangan teknologi. Implementasinya diharapkan mendukung kaderisasi yang adaptif tanpa mengesampingkan nilai, karakter, dan independensi berpikir kader.
"Saya memiliki harapan HMI ke depan sebagai organisasi yang kuat secara nilai, maju secara teknologi, dan terbuka terhadap kolaborasi," kata Faisal.