SERANG — Ribuan mata tertuju pada busana adat yang menghiasi barisan aparatur sipil negara (ASN) di Stadion Maulana Yusuf, Senin lalu. Bukan sekadar gaya, pilihan kain dan aksen tradisional dari berbagai daerah itu sengaja dikenakan untuk merefleksikan semboyan negara.
Nanang menuturkan, perbedaan yang tampak dari ragam pakaian tersebut merupakan keniscayaan yang harus dirawat. Ia menegaskan, Indonesia berdiri di atas keberagaman suku, budaya, dan latar belakang, namun tetap terikat dalam satu kesatuan di bawah naungan NKRI dan Pancasila.
"Negara kita berslogan Bhinneka Tunggal Ika di bawah naungan NKRI dan Pancasila. Jadi, perbedaan itu menjadi hal yang biasa dan sebuah keniscayaan," kata Nanang di sela-sela upacara.
Menurutnya, keberagaman justru menjadi kekuatan apabila dirawat dengan semangat persatuan. Kota Serang disebutnya sebagai salah satu etalase Provinsi Banten yang masyarakatnya datang dari berbagai latar belakang suku, budaya, dan agama.
“Kota Serang ini tentu adalah kota yang sangat toleran terhadap siapa pun, tetapi tetap dengan menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang tumbuh subur di Kota Serang,” ujarnya.
Nanang menekankan bahwa semangat toleransi tidak boleh menggerus identitas lokal. Nilai-nilai budaya yang telah tumbuh subur di tengah masyarakat dinilai menjadi bagian penting dari identitas Kota Serang yang harus dipertahankan.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang introspeksi. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan harus diisi dengan karya nyata yang memberikan manfaat bagi daerah.
Khusus kepada jajaran birokrasi, Nanang meminta seluruh aparatur menjadikan pelayanan publik sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan. Ia mengingatkan bahwa pengorbanan para pendahulu jauh lebih besar dibandingkan tugas aparatur saat ini.
“Dibandingkan dengan para pahlawan kita yang gugur dengan darah, jiwa dan raga, kita hanya mengisi kemerdekaan. Untuk itu, berbuatlah yang terbaik, khususnya bagi masyarakat Kota Serang,” tutupnya.