TANGERANG — Raffi Ahmad menyampaikan seruan itu saat membuka sesi Indonesia Apps Summit 2026 di ICE BSD, Tangerang, Senin (14/9/2026). Ia menilai posisi Indonesia sebagai salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara belum diimbangi dengan jumlah pencipta teknologi dari dalam negeri.
"Indonesia jangan hanya menjadi pasar aplikasi saja. Indonesia harus menjadi tempat lahirnya aplikasi kelas dunia," ujar Raffi dalam forum tersebut.
Menurut Raffi, kolaborasi menjadi syarat utama membangun ekosistem digital nasional yang kuat. Pemerintah, industri, perguruan tinggi, investor, komunitas, dan generasi muda perlu bergerak bersama menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.
Raffi menegaskan tidak ada pihak yang bisa berjalan sendiri di tengah perubahan teknologi saat ini. Menurut dia, sinergi antar sektor menjadi prasyarat untuk mempercepat pertumbuhan industri aplikasi dalam negeri.
"Tidak ada yang namanya superman berdiri sendiri di zaman sekarang, tidak ada superman, yang ada super team," kata dia.
Ia juga meminta generasi muda tidak takut terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut Raffi, AI merupakan teknologi ciptaan manusia yang seharusnya dimanfaatkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Manusia tidak perlu takut sama AI, kita yang menciptakan AI. AI tidak punya hati, tapi manusia punya hati," ucapnya.
Raffi menyebut Indonesia membutuhkan lebih banyak pengembang aplikasi, insinyur, programmer, coder, serta pelaku ekonomi kreatif. Mereka dinilai perlu menggabungkan teknologi dan kreativitas untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Aplikasi kini bukan sekadar produk teknologi, tetapi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Ekosistem tersebut melibatkan pengembang, desainer, animator, musisi, sineas, kreator konten hingga pelaku UMKM.
Ia mengajak generasi Z dan milenial terus meningkatkan kemampuan serta tidak berhenti belajar. Menurutnya, proses belajar dalam perkembangan teknologi berlangsung dua arah antara generasi muda dan generasi senior.
"Anak-anak muda harus naik kelas. Tentunya juga dari pengguna menjadi pencipta teknologi," ujar Raffi.
Nilai ekonomi digital Indonesia pada 2026 telah mendekati 130 miliar dolar AS. Jumlah pengguna internet Indonesia mencapai lebih dari 220 juta orang.
Raffi menilai besarnya jumlah pengguna internet menjadi peluang sekaligus ruang eksperimen bagi pengembangan berbagai inovasi digital. Karena itu, aplikasi lokal harus mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan memperluas pasar secara global.
"Aplikasi lokal itu harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan berani menuju pasar global. Itu yang memang bisa menjadi kebanggaan kita semuanya," ujarnya.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya sebelumnya resmi membuka Indonesia Application Summit (IN APPS) 2026 di ICE BSD, Tangerang. Forum internasional tersebut diselenggarakan untuk memperkuat ekosistem peranti lunak nasional.
Langkah tersebut sekaligus menegaskan peran subsektor aplikasi sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi digital dan ekonomi kreatif Indonesia. Dalam pidato pembukaannya, Riefky menekankan pentingnya integrasi industri aplikasi dalam rencana pembangunan nasional jangka panjang.
"Aplikasi telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, ketika kita berbicara mengenai industri aplikasi, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai masa depan ekonomi digital Indonesia," ujar Riefky, Senin 14 September 2026.
Raffi berharap Indonesia Apps Summit 2026 menjadi ruang yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, investor, komunitas, dan generasi muda. Forum tersebut diharapkan memperkuat ekosistem aplikasi nasional.
"Semangat untuk kita semuanya. Mari bersama-sama kita jadikan Indonesia bukan hanya bangsa pengguna, tetapi Indonesia bangsa pencipta, yang bisa menciptakan solusi dari Indonesia untuk dunia," kata Raffi.