PANDEGLANG — Delapan orang yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal masih belum ditemukan setelah tujuh hari operasi pencarian di perairan Selat Sunda. Perpanjangan tiga hari diputuskan melalui rapat evaluasi yang melibatkan Gubernur Banten Andra Soni dan Tim SAR Gabungan di Posko SAR Carita, Pandeglang.
Hingga hari ketujuh, tidak satu pun dari delapan korban berhasil ditemukan. Pemprov Banten lebih dulu berkomunikasi dengan keluarga korban sebelum mengambil keputusan perpanjangan.
Kronologi Hilangnya Rombongan di Perairan Anak Krakatau
Rombongan berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pegedongan, Carita, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026. Setelah hilang kontak, area pencarian diperluas secara bertahap hingga mencakup sekitar 6.010 mil laut persegi.
Operasi melibatkan dukungan kapal, helikopter, drone termal, serta teknologi deteksi lainnya. Sejumlah instansi dikerahkan, mulai dari Basarnas, Polda Banten, hingga Lanal Banten.
Kabut Tebal Jadi Kendala Utama Penerbangan Helikopter
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad menyebut kabut tebal sebagai salah satu kendala utama di lapangan. Kondisi itu membatasi jarak pandang dan menghambat penerbangan helikopter.
Tim SAR akan memaksimalkan tiga hari tambahan dengan memperbarui analisis arus laut. Data BMKG dan PVMBG dipakai untuk memetakan pergeseran arus yang diperkirakan dapat membawa objek pencarian ke arah Samudra Hindia.
Permintaan Gubernur Banten ke Basarnas dan Polda
Gubernur Andra Soni menegaskan pencarian harus terus berjalan meski sudah memasuki hari kedelapan. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan tetap terlibat dalam operasi lanjutan.
“Kami meminta Basarnas, juga dukungan Polda Banten, Lanal Banten, dan seluruh pemangku kepentingan untuk kiranya dapat melanjutkan operasi ini,” ujar Andra Soni.
Perpanjangan operasi ini menjadi harapan baru bagi keluarga korban yang menunggu kepastian sejak pekan lalu. Tim SAR belum merinci titik fokus pencarian pada tiga hari tambahan tersebut.