CILEGON — Panggung Alhamra Arts Center di Lahore menjadi ruang bagi Sanggar Ubruk Seniki untuk memperkenalkan seni tradisional Banten ke hadapan penonton mancanegara. Lakon Kintir yang dibawakan kelompok asal Cilegon itu menyoroti pencemaran lingkungan akibat sampah plastik, tema yang dipilih untuk menyapa penonton lintas negara.
Penampilan tersebut menjadi bagian dari 3rd Punjab Maas International Theatre Festival, ajang yang mempertemukan kelompok teater dari sejumlah negara. Ubruk Seniki tampil di hadapan warga Pakistan, warga negara Indonesia yang bermukim di Lahore, serta delegasi festival dari Kazakhstan, Norwegia, dan Prancis.
Ratusan penonton menyambut pertunjukan Kintir dengan respons meriah. Antusiasme itu datang bukan hanya dari warga Pakistan, tetapi juga dari WNI di Lahore yang hadir memberi dukungan langsung.
Kehadiran delegasi dari Kazakhstan, Norwegia, dan Prancis menambah warna forum. Pertunjukan teater menjadi jembatan bagi pertukaran budaya antarnegara di festival tersebut.
Lakon Kintir membawa persoalan pencemaran lingkungan akibat sampah plastik sebagai gagasan utama. Pilihan tema itu menempatkan isu lokal Banten dalam percakapan yang lebih luas di forum internasional.
Melalui pertunjukan ini, Ubruk Seniki sekaligus memperkenalkan kekayaan seni budaya Banten kepada masyarakat internasional. Seni tradisional daerah tampil bukan sebagai tontonan eksotis, melainkan sebagai medium menyampaikan persoalan yang dihadapi banyak negara.
Ubruk Seniki tampil sebagai perwakilan seniman muda Cilegon di ajang teater Pakistan. Keterlibatan mereka memperluas peta kehadiran seni Banten di panggung global, setelah sebelumnya lebih sering dikenal lewat pentas di dalam negeri.
Festival di Alhamra Arts Center memberi ruang bagi kelompok teater dari berbagai negara untuk saling berbagi pendekatan. Bagi Ubruk Seniki, panggung Lahore menjadi titik penting dalam perjalanan kesenian mereka.