BANTEN — Guru Besar FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Anton Agus Setyawan, menilai peringatan MSCI soal transparansi pasar saham Indonesia sebagai persoalan lama yang baru disorot. Ia mendorong pemerintah dan otoritas bursa memperkuat keterbukaan informasi agar kepercayaan investor tidak tergerus. Pembenahan tata kelola pasar modal dinilai perlu jadi momentum memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Anton menyebut persoalan ketimpangan informasi di pasar modal Indonesia bukan hal baru. Ia merujuk penelitian soal pasar modal Indonesia pada awal 2000-an yang telah menemukan persoalan asimetri informasi. Temuan itu, menurutnya, menunjukkan pentingnya memastikan investor memperoleh informasi memadai soal kinerja perusahaan yang sahamnya diperdagangkan.
"Saya bisa memahami kenapa MSCI memperingatkan otoritas bursa di Indonesia. Cuma, kenapa baru sekarang? Itu isu lama sebenarnya," ujar Anton, Rabu (21/10/2026).
Tiga Aspek yang Dinilai Perlu Dibedah
Menurut Anton, persoalan pasar modal dapat dilihat dari aspek transparansi, pembentukan harga saham, dan kemungkinan adanya pihak yang mampu memengaruhi pergerakan harga. Perbaikan keterbukaan informasi dan penguatan pengawasan menjadi langkah penting untuk menciptakan pasar saham yang lebih sehat.
Ia menilai pemerintah dan otoritas terkait perlu terus berkomunikasi dan bernegosiasi dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Tuntutan perbaikan yang disampaikan MSCI juga perlu ditindaklanjuti, bukan hanya didengar.
Tuntutan MSCI Dinilai Positif bagi Pasar
Anton memandang pembenahan yang diminta MSCI pada dasarnya menguntungkan pasar modal Indonesia. Kesetaraan informasi bagi investor menjadi kunci pasar yang lebih kredibel.
"Tuntutannya itu sebenarnya juga positif bagi pasar saham kita supaya lebih sehat. Artinya, semua investor punya informasi yang sama tentang kondisi riil kinerja emiten," katanya.
Efek Berantai ke Konsumsi Rumah Tangga
Perkembangan pasar keuangan perlu dicermati karena dampaknya berpotensi meluas ke perekonomian. Persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi memengaruhi keputusan konsumsi dan investasi rumah tangga. Ketika masyarakat mengkhawatirkan prospek pekerjaan maupun pendapatan, mereka cenderung menunda pembelian dan memilih menyimpan uang.
"Persepsi masyarakat terhadap perekonomian itu akan berpengaruh pada perilaku mereka. Orang sekarang menahan untuk tidak membeli karena khawatir kondisi ekonomi akan memburuk," ujarnya.
Anton memberi contoh keputusan keluarga muda yang berencana membeli rumah melalui kredit. Keputusan itu tidak hanya bergantung pada tabungan saat ini, tetapi juga keyakinan bahwa mereka masih punya pekerjaan dan penghasilan beberapa tahun ke depan. Jika ketidakpastian membuat masyarakat menunda pembelian, aktivitas transaksi melambat dan berdampak ke sektor usaha.
Tekanan di Pasar Tenaga Kerja
Kondisi tersebut perlu dibaca bersama tantangan di pasar tenaga kerja. Anton menyoroti kecenderungan sebagian pekerja beralih dari sektor formal ke informal serta praktik kontrak kerja jangka pendek di sejumlah industri. Situasi itu memengaruhi kepastian pendapatan rumah tangga dan memperkuat kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uang.
Rupiah dan Harga Kebutuhan Pokok Jadi Sorotan
Anton mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan energi. Pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan biaya barang impor, terutama bahan baku yang dibutuhkan industri. Stabilitas harga dan kesiapan kebijakan energi perlu menjadi bagian upaya menjaga ketahanan ekonomi sekaligus melindungi aktivitas produksi.
Pemerintah dinilai perlu membangun kepercayaan masyarakat melalui kebijakan terencana, komunikasi yang meyakinkan, serta respons sesuai persoalan di lapangan. Evaluasi program dan penanganan masalah secara tepat menjadi penting agar kebijakan ekonomi memperoleh dukungan publik dan tidak memperbesar ketidakpastian.
Fondasi Ekonomi Masih Baik, tetapi Kepercayaan Harus Dijaga
Anton menegaskan fondasi ekonomi Indonesia secara umum masih baik. Penguatan transparansi pasar modal, perbaikan kebijakan, dan upaya menjaga kepercayaan masyarakat perlu terus dilakukan agar ketidakpastian tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas. Kepercayaan publik menjadi salah satu faktor yang perlu dijaga supaya konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi tetap bergerak.