Pencarian

Ilmuwan Lab Wabah Siberia Meninggal, 189 Kontak Diawasi Medis

Rabu, 21 Oktober 2026 • 19:50:31 WIB
Ilmuwan Lab Wabah Siberia Meninggal, 189 Kontak Diawasi Medis
kontak pegawai laboratorium anti-wabah di Irkutsk menjalani pengawasan medis setelah korban meninggal akibat pneumonia.

BANTEN — Sebanyak 189 orang yang pernah melakukan kontak dengan seorang pegawai laboratorium anti-wabah di Irkutsk, Siberia, kini berada di bawah pengawasan medis setelah pekerja tersebut meninggal akibat pneumonia. Badan kesehatan Rusia melaporkan kasus ini pada 4 Oktober, dengan hasil tes laboratorium para kontak dinyatakan negatif. Kasus ini memicu perbandingan dengan COVID-19, meski para pakar menilai risikonya jauh lebih terbatas.

Institut Anti-Wabah Irkutsk untuk wilayah Siberia dan Timur Jauh kehilangan satu pegawainya akibat pneumonia yang penyebabnya belum diketahui. Otoritas kesehatan Rusia belum merilis identitas maupun jabatan pasti korban.

Laporan media lokal yang belum terkonfirmasi menyebut korban adalah teknisi laboratorium berusia 28 tahun. Salah satu versi menyebut ia diduga memecahkan tabung reaksi berisi patogen penyebab wabah pneumonia.

Versi lain menyebut korban baru kembali dari perjalanan dinas ke Buryatia, wilayah yang dikenal sebagai reservoir alami penyakit pes.

Siapa yang Diawasi dan Bagaimana Kondisinya

Gubernur Oblast Irkutsk Igor Kobzev menyatakan seluruh kontak telah ditempatkan di bawah pengawasan medis di sejumlah rumah sakit. Hingga pengumuman itu, tidak ada satu pun yang menunjukkan tanda-tanda penyakit.

"Saya ingin menginformasikan bahwa semua orang yang teridentifikasi pernah melakukan kontak telah ditempatkan di bawah pengawasan medis. Hingga hari ini, tidak satu pun dari mereka menunjukkan tanda-tanda penyakit, dan hasil tes laboratorium menunjukkan hasil negatif," ujar Kobzev melalui Telegram.

The Moscow Times melaporkan sedikitnya 189 orang masuk dalam daftar pengawasan. Angka ini lebih rendah dari estimasi awal sekitar 200 orang yang beredar di sejumlah laporan.

Mengapa Kasus Ini Dibandingkan dengan COVID-19

Dr Simon Clarke, profesor madya mikrobiologi seluler di School of Biological Sciences, University of Reading, menilai perbandingan dengan pandemi 2019 tidak sepenuhnya tepat. Penyakit pes disebabkan bakteri, bukan virus, sehingga respons pengobatannya berbeda.

"Laporan dari Rusia mau tidak mau memicu perbandingan dengan COVID-19, tetapi penting untuk diingat bahwa wabah pneumonia adalah penyakit yang sangat berbeda," kata Clarke dalam pernyataannya.

Pes dapat diobati dengan antibiotik bila terdeteksi cepat. Profesor Ian Jones, profesor virologi dari University of Reading, menambahkan kondisi kehidupan yang dulu memicu penyebaran pes kini sebagian besar sudah tidak ada.

"Akan tetapi, kondisi kehidupan yang dulu memicu penyebarannya kini sebagian besar sudah tidak ada lagi, antibiotik pun tersedia, sehingga potensi penyebarannya menjadi terbatas," ujar Jones.

Seberapa Besar Risiko Kebocoran Patogen dari Laboratorium

Clarke mengakui patogen bisa lolos dari laboratorium, tetapi peristiwanya sangat langka. Menurut dia, diperlukan rangkaian kesalahan fatal agar seorang pekerja terinfeksi akibat tabung reaksi yang pecah.

Laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi menerapkan berbagai lapisan perlindungan. Prosedur ketat, lemari keamanan biologis (safety cabinet), sistem aliran udara, dan staf terlatih menjadi standar yang mempersulit terjadinya infeksi.

"Dan pecahnya tabung reaksi tidak serta-merta menyebabkan paparan atau infeksi. Selain itu, kami juga jarang menggunakan tabung reaksi," imbuh Clarke.

Ia menyarankan publik menahan diri dari kesimpulan dini sebelum rincian konkret dirilis. Transparansi pihak Rusia menjadi kunci untuk menjawab apakah kasus ini murni infeksi alami atau berkaitan dengan insiden di dalam laboratorium.

Hingga laporan ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai hasil investigasi internal Institut Anti-Wabah Irkutsk maupun jadwal pengumuman lanjutan dari badan kesehatan Rusia.

Follow www.bantenvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks