PANDEGLANG — Komunitas Pushbike Pandeglang, yang berada di bawah naungan organisasi BMX dan KORMI Pandeglang, mengirim dua atletnya ke Festival Olahraga Rekreasi Provinsi (Forprov) Banten. Keduanya pulang membawa medali perunggu dari kompetisi yang berlangsung di Kota Tangerang.
Elfano Zain Almas, kelahiran 2022, finis di posisi ketiga. Prestasi serupa diraih Kiona Biqis Faradisa, kelahiran 2021. Dua nama itu menjadi wakil Pandeglang di panggung provinsi meski status kontingen yang mereka bela bukan daerah asalnya.
Kenapa Atlet Pandeglang Berlaga untuk Kontingen Cilegon
Budiansyah, Ketua Pushbike Pandeglang, mengaku sejak awal kebingungan karena tidak ada komunikasi maupun arahan soal keikutsertaan atlet di Forprov Banten. Situasi itu membuat komunitas mencari jalan sendiri agar anak-anak tetap bisa bertanding.
Pilihan jatuh ke kontingen Kota Cilegon. Menurut Budiansyah, pihak Cilegon menerima atlet Pandeglang dengan baik dan memberi ruang bagi mereka untuk turun di kelas usianya.
"Alhamdulillah, anak-anak bisa ikut berpartisipasi dan membawa pulang prestasi. Kami mengapresiasi pihak Cilegon yang sudah menerima atlet-atlet dari Pandeglang untuk bergabung dalam kontingennya," kata Budiansyah kepada wartawan, Sabtu (7/11/2026).
"Awalnya kami juga bingung karena tidak ada komunikasi. Akhirnya kami bisa bergabung dengan kontingen Cilegon. Alhamdulillah, kami diterima dengan baik dan anak-anak tetap bisa bertanding," ujarnya menambahkan.
Dua Medali Perunggu dari Usia Balita
Elfano dan Kiona masuk kategori atlet yang masih sangat belia. Keduanya lahir pada 2021 dan 2022, artinya baru berusia sekitar empat hingga lima tahun saat berlaga di level provinsi.
Pada nomor pushbike, usia seperti itu bukan hal aneh. Kelas balap sepeda tanpa pedal untuk anak-anak memang dirancang sejak dini, dan kejuaraan daerah biasanya memisahkan peserta berdasarkan tahun kelahiran.
Yang membuat capaian ini menonjol bukan sekadar medali, melainkan jalur yang harus ditempuh. Komunitas di Pandeglang mesti menumpang kontingen daerah lain untuk bisa tampil, sementara pembinaan usia dini tetap berjalan di tingkat kampung.
Harapan agar Pemkab Pandeglang Turun Tangan
Budiansyah menyayangkan minimnya perhatian pihak terkait di Kabupaten Pandeglang terhadap keberadaan komunitas Pushbike, terutama saat persiapan menuju ajang tingkat provinsi. Menurutnya, koordinasi yang lebih awal akan membuat atlet tidak perlu mencari jalur alternatif.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Pandeglang, khususnya instansi terkait dan KORMI, memberi perhatian serta dukungan kepada komunitas Pushbike Pandeglang. Dukungan itu dinilai penting agar pembinaan atlet cilik tidak bergantung pada inisiatif komunitas semata.
Bagi orang tua di Pandeglang, persoalan ini menyangkut hal sederhana: apakah anak mereka punya wadah resmi untuk menyalurkan hobi bersepeda, lengkap dengan jalur kompetisi yang jelas dari tingkat kabupaten hingga provinsi.