LEBAK — Kawasan adat Baduy Jero yang dikenal sebagai pusat adat paling sakral di Banten kembali menerima kunjungan dari para pegiat wisata dan budaya. Mereka datang ke Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, bukan sekadar berwisata, tetapi untuk menimba ilmu tentang kehidupan yang selaras dengan alam.
Kedatangan rombongan ini menjadi pengingat bahwa di tengah gempuran teknologi dan modernitas, masih ada komunitas yang bertahan hidup tanpa listrik, kendaraan bermotor, maupun pakaian modern. Masyarakat Baduy Dalam sehari-hari mengenakan pakaian adat serba hitam dan putih hasil tenun sendiri.
Mengapa Baduy Jero Menjadi Tujuan Belajar Budaya?
Wilayah Baduy Jero atau Baduy Dalam merupakan kelompok masyarakat adat Baduy yang paling ketat dalam memegang adat dan tradisi leluhur. Berbeda dengan Baduy Luar yang mulai beradaptasi dengan teknologi, Baduy Dalam menolak segala bentuk kemudahan modern yang dianggap dapat merusak keseimbangan alam.
Aturan adat di kawasan ini melarang penggunaan listrik, kendaraan bermotor, dan teknologi. Larangan ini bukan tanpa alasan—bagi masyarakat Baduy Jero, hidup sederhana adalah kunci menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Pesan di Balik Kunjungan ke Wilayah Adat
Kunjungan yang didokumentasikan di depan gapura bertuliskan "BADUY JERO" dengan latar perbukitan hijau ini menyimpan pesan mendalam. Salah satu peserta kunjungan mengungkapkan alasannya datang ke kawasan adat tersebut.
"Kami datang ke sini bukan hanya untuk berfoto. Tapi untuk belajar. Bahwa hidup sederhana, jujur, dan menghargai alam adalah kunci keberlanjutan," ujar salah satu peserta kunjungan.
Bagaimana Aturan Berkunjung ke Baduy Jero?
Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Pariwisata terus mendorong wisata berbasis budaya yang bertanggung jawab. Pengunjung yang hendak memasuki wilayah adat Baduy Jero diimbau untuk menghormati adat setempat, tidak mengambil foto sembarangan, dan tidak membawa barang-barang terlarang.
Suku Baduy sendiri terbagi menjadi dua kelompok, yakni Baduy Luar dan Baduy Dalam. Baduy Dalam dianggap sebagai pusat adat yang paling sakral dan tertutup bagi publik. Karena itu, setiap kunjungan ke kawasan ini harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat terhadap nilai-nilai yang dijaga masyarakat setempat.
Kehadiran para pegiat wisata dan budaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya menjaga dan menghormati budaya lokal. Masyarakat Baduy telah menjadi contoh nyata bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya.