BANTEN — Ketua Pelaksana kegiatan, Ahmad Daerobi, menegaskan bahwa deklarasi bukan sekadar ajang berkumpulnya pemuda dalam satu organisasi. Menurut Ahmad, ada komitmen bersama yang ingin dibangun untuk menghadirkan perubahan positif di tengah masyarakat.
"Deklarasi Pemuda Berdampak bukan hanya tentang menyatukan pemuda dalam sebuah organisasi, tetapi juga menyatukan gagasan, semangat, dan komitmen untuk bergerak bersama. Kami ingin kegiatan ini menjadi titik awal lahirnya aksi-aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Ahmad.
Ahmad menyebut keberhasilan gerakan kepemudaan tidak cukup diukur dari terselenggaranya sebuah deklarasi. Konsistensi menjalankan program, keterlibatan masyarakat, dan manfaat yang dihasilkan menjadi tantangan berikutnya.
Lima Bidang Fokus Setelah Deklarasi
Pemuda Berdampak mengarahkan gerakannya pada lima bidang utama usai deklarasi. Rinciannya sebagai berikut:
- Pendidikan dan literasi — memperluas kesempatan belajar, meningkatkan budaya literasi, dan mendorong kualitas sumber daya manusia.
- Ketahanan pangan dan kewirausahaan — mendorong keterlibatan pemuda dalam pertanian, peternakan, perikanan, serta usaha produktif berbasis potensi daerah.
- Kebangsaan dan demokrasi — penguatan pemahaman Pancasila, toleransi, partisipasi demokratis, dan persatuan dalam keberagaman.
- Pemberdayaan masyarakat — menghadirkan program sosial sesuai kebutuhan masyarakat dan mendorong kemandirian komunitas.
- Kolaborasi lintas sektor — kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat sipil.
Bagas Yulianto: Masa Depan Tidak Cukup Ditunggu
Founder Pemuda Berdampak, Bagas Yulianto, menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan Indonesia. Potensi pemuda, menurutnya, perlu didukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, akses pendidikan, kemampuan berwirausaha, serta kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan.
"Kami percaya bahwa masa depan Indonesia tidak cukup hanya ditunggu, tetapi harus dipersiapkan dan diperjuangkan bersama. Pemuda Berdampak hadir untuk menyatukan energi, gagasan, dan keberanian generasi muda agar tidak berhenti pada wacana. Kita harus bergerak, mengabdi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara," kata Bagas.
Bagas menekankan pentingnya kolaborasi di tengah perbedaan latar belakang, organisasi, daerah, dan cara pandang. Keberagaman, menurutnya, seharusnya menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan bersama.
"Bersatu bukan berarti harus seragam, melainkan memiliki tujuan bersama untuk memberikan yang terbaik bagi negeri," ujarnya.
Indonesia Emas 2045 Bukan Target yang Datang Sendiri
Cita-cita Indonesia Emas 2045 dinilai membutuhkan kerja keras, integritas, pendidikan berkualitas, kemandirian ekonomi, serta keberanian generasi muda mengambil tanggung jawab.
"Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan atau target yang akan datang dengan sendirinya. Ia membutuhkan kerja keras, integritas, pendidikan yang berkualitas, kemandirian ekonomi, dan keberanian generasi muda untuk mengambil tanggung jawab," tutur Bagas.
Penguatan nilai Pancasila, toleransi, demokrasi, dan gotong royong disebut menjadi bagian penting dalam membangun gerakan kepemudaan yang positif dan bertanggung jawab. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Banten, Novriyadi Purwansyah, disebut dalam konteks penguatan wawasan kebangsaan dan peran pemuda dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pemuda Berdampak menyatakan komitmen melanjutkan deklarasi melalui konsolidasi organisasi, pengembangan jejaring, dan pelaksanaan program yang berorientasi pada manfaat bagi masyarakat.