Pencarian

Neraca Perdagangan September 2026 Surplus US$ 3,36 Miliar, Ekspor Naik 11,87%

Senin, 02 November 2026 • 12:21:30 WIB
Neraca Perdagangan September 2026 Surplus US$ 3,36 Miliar, Ekspor Naik 11,87%
BPS mencatat neraca perdagangan September 2026 surplus US$ 3,36 miliar dengan ekspor US$ 27,59 miliar dan impor US$ 24,23 miliar.

BANTEN — Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan September 2026 surplus US$ 3,36 miliar, dengan ekspor US$ 27,59 miliar melampaui impor US$ 24,23 miliar. Capaian itu turun tipis dari surplus Agustus US$ 3,55 miliar dan jauh di bawah September 2025 yang mencapai US$ 4,55 miliar.

Surplus bulan lalu ditopang ekspor nonmigas yang naik 12,39% secara tahunan menjadi US$ 26,64 miliar. Sementara ekspor migas justru turun 0,99% menjadi US$ 0,95 miliar. Di sisi lain, impor tumbuh lebih cepat dari ekspor, yakni 18,41% secara tahunan.

Empat Komoditas yang Menarik Surplus

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Ateng Hartono membeberkan komoditas yang menopang kenaikan ekspor nonmigas. Lonjakan terbesar datang dari tembaga dan barang daripadanya, disusul lemak dan minyak hewan nabati.

  • Lemak dan minyak hewan nabati: naik 89,04% secara yoy
  • Tembaga dan barang daripadanya: naik 165,97% secara yoy
  • Mesin dan perlengkapan elektrik: naik 24,37% secara yoy

"Kenaikan ekspor nonmigas terutama didorong oleh beberapa komoditas, yaitu lemak dan minyak hewan nabati naik 89,04% secara yoy, tembaga dan barang daripadanya juga naik cukup tinggi 165,97% secara yoy, mesin dan perlengkapan elektrik juga naik 24,37% secara yoy," ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11).

Impor Migas Jadi Pendorong Terbesar

Dari sisi impor, komoditas migas mencatat kenaikan paling tajam, yakni 23,94% menjadi US$ 3,27 miliar. Adapun impor nonmigas naik 17,59% menjadi US$ 20,96 miliar. Laju impor yang lebih kencang dari ekspor menjelaskan mengapa surplus bulan lalu menyusut dibanding periode yang sama tahun lalu.

Surplus Kumulatif Anjlok Tajam

Sepanjang Januari-September 2026, neraca perdagangan mencatat surplus US$ 10,61 miliar. Angka itu anjlok dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 33,54 miliar. Penurunan tajam ini dipicu defisit neraca nonmigas yang membengkak dari US$ 13,86 miliar menjadi US$ 23,6 miliar.

Surplus neraca nonmigas secara kumulatif tahun ini tercatat US$ 34,21 miliar, turun dari US$ 47,4 miliar pada Januari-September 2025. Artinya, surplus yang tersisa hampir seluruhnya bergantung pada kinerja ekspor komoditas, sementara impor barang modal dan bahan baku terus menekan neraca.

Apa Artinya bagi Pasar dan Rupiah

Surplus dagang yang mengecil memberi ruang lebih sempit bagi penguatan rupiah, terutama di tengah tekanan dolar AS. Bagi pelaku usaha, kenaikan impor bahan baku bisa menjadi sinyal aktivitas produksi yang membaik, namun sekaligus menandakan ketergantungan pada pasokan luar negeri yang belum surut.

Investor perlu mencermati apakah tren pelemahan surplus ini berlanjut hingga akhir tahun. Bila defisit nonmigas terus melebar, tekanan pada neraca transaksi berjalan dan stabilitas kurs berpotensi meningkat pada kuartal IV 2026.

Follow www.bantenvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks